Gendis dan Adimas Dirgantara

Gendis, kalau dari bahasa jawa artinya gula, dan gula itu manis. Itulah namaku. Aku suka sekali dengan nama ini, unik dan jarang yang punya. Buktinya disekolah hanya aku yang bernama Gendis. Ini kisahku 10 tahun yang lalu, kira-kira tahun 2007 aku mau berbagi cerita manis seperti namaku.

“ Ndok Gendis, ibu tolong belikan tempe sama tomat di toko pak Gito. Ayo cepet, ndang bangun ! ” teriak ibu sambil menepuk lengan tanganku dengan lembut.

Pagi ini seperti biasanya, ibu menyuruhku belanja di toko pak Gito yang ada pertigaan jalan, tepat di bawah pohon beringin besar, sebelah pos kampling yang di warnai pelangi. Dari dulu sampai sekarang aku penasaran sekali, kenapa pos kampling itu di warnai seperti  pelangi, warnanya rame, sedikit norak dan gak cocok sekali. Mungkin lebih cocok di sebut tempat konser music raggae.

Toko pak Gito adalah salah satu toko paling lengkap di desa Kami, hanya ada dua toko di kampung ini, satunya lagi milik bu Mirna, di dusun sebelah. Tempatnya di sebelah sawah. Toko pak Gito bukan toko biasa, disini selain berbelanja, kalian juga bisa dapat banyak informasi terkini kejadian – kejadian di kampung. Jaman dulu tv masih jarang-jarang yang punya. Hanya ada 3 , dirumahku, rumah pak camat, sama pos kampling di depan Balai Desa. Selain itu ada perkumpulan ibu-ibu yang kami namakan gangster rumpi, kenapa gengster ? ya karena mereka sadis. Bermuka malaikat, tapi kalau lagi bosan bisa berubah menjadi monster untuk kaum muda seperti kami. Disinilah keterampilanku sebagai kaum muda di uji. Kalian tahu, sudah banyak gadis mundur datang ketempat ini. Mereka gak kuat perang sama gengser rumpi itu haha. Karena jika  salah menjawab, maka tamatlah dia. Atau jika salah ekspresi, maka ambruk reputasinya sebagai calon mantu idaman. Gengs ini punya banyak reporter, TVRI saja kalah. Dari ujung ke ujung mereka punya banyak radar. Tiap pagi selalu update berita terkini. Dari pada liat tv, aku lebih suka denger mereka, suka lucu kalau lagi cerita, bibirnya monyong-monyong. Kadang sampek gak sadar kalau salah milih sayur.

“ duh, sindok Gendis ayune, niru bukne yo” (Niru = mirip)  Bude Ritma memulai basa – basi  padaku,aku hanya tersenyum malu. Kemudian tak lama bude Ninis juga ikut – ikut menggodaku “ Ndok Gendis sampun nduwe pacar to?”,

“ wes ayu, sopan, nurut marang wong tuo pisan, paling yo uwes nduwe to bu” (marang = dengan )Bu Rere juga ikut-ikutan.

“ ah bude Tanya gitu mulu, belum bude ? apa mau di jadiin mantu ? ” Jawab ku tersenyum malu dengan wajah memerah, pura-pura aja kalau mereka itu benar, padahal kalau dikatakan sopan, aku sering kurang ajar sama mereka.

“ haha kalau anakku lanang, tak jadiin mantu kamu ndok, sayang kok perempuan. kamu itu cocok sama anak bu Parsih ndok, wes Ganteng, Pinter, Sholeh” bude Ninis mulai menunjukan aksi perjodohan lagi, tiap pagi orang-orang selalu jodoh-jodohin aku dengan mas Dimas. antara suka dan tidak. Karena percayalah. Mas Dimas itu mirip hantu, namanya saja yang sering muncul. Orangnya tidak terlihat.

Dari sekian banyak kaum muda yang di utus para ibu ibu datang kesini, hanya aku yang bertahan paling lama. Percayalah ini hanya sekedar keberuntungan saja. karena aku anak kepala desa disini. Tak perlu banyak usaha, mereka semua menyukaiku, dan seolah – olah selalu mencari cara untuk baik padaku. kecuali bu parsih, Ibu dari mas Dimas. Sedikitpun beliau tak pernah menyapaku, atau sekedar basa basi kepadaku. Mungkin karena beliau istri dari pak Camat, orang paling di segani didesa. jadi ogah bicara sama makhluk aneh seperti aku ini.

Mas Dimas adalah satu – satunya lelaki dari desa ini yang mendapatkan beasiswa di luar negeri. Kata ibu-ibu gangster rumpi, mas Dimas itu ganteng, sopan, baik, kulitnya putih seperti artis dan rajin beribadah juga, kadang suka bantu-bantu di masjid dulu. Waktu SMP aku pernah satu sekolah bersamanya, tapi aku tidak begitu mengenal dia. Mungkin dia tidak terkenal, atau memang dulu dia jelek jadi tidak banyak yang tahu. Tapi kata gengs rumpi, ibu dan ayahnya sombong, pilih – pilih kalau bergaul, beliau juga jarang ikut perkumpulan warga di kampung, kecuali perkumpulan para pejabat pemerintah atau aparatur desa.

“ kenapa bu Parsih begitu bude?” tanyaku.

“ katanya dia kan pejabat kecamatan, orang kaya, jadi harus di hormati” jawab bude Ninis

“ hormat pakai tangan?”

“ piye nduk”

“begini bude?” tanganku mencontohkan posisi hormat

“haha, ndok Gendis iki lak aneh aneh bae to, pinter ngelawak”

“biar ibu awet muda bude, haha”

Di banding bapaknya mas Dimas, bapakku lebih maju dalam sector ekonomi. Karena keluarga kita memliki bisnis di bidang perkebunan dan dagang. Walaupun untung banyak, bapak tidak suka hidup mewah, rumah aja Cuma pageran pakai kayu, terasnya dibirain luas, rumah juga masih pakai kayu jati, walaupun sudah berubin, persis seperti rumah adat jogya. Bapak punya mobil kijang yang  suka mogok-mogokan, aku menyebutnya gerobak nakal. Abis nyebelin kalau di ajak jalan, suka ngambek. Kata bapak pas aku suruh beli mobil baru, dia bilang uangnya di tabung buat haji. Jadi aku diam saja.

Di kampung, Bapak termasuk orang yang dermawan, supel, dan berfikiran kritis, oleh karena itu masyarakat memilihnya jadi Kepala Desa. Dulu bapak juga pernah belajar ilmu pertanian di salah satu universitas tinggi dikota, tapi sekolahnya harus putus di tengah jalan, karena keterbatasan biaya. Walaupun begitu ilmu yang pernah bapak dapatkan, beliau manfaatkan sebaik mungkin.

Terlepas dari semua itu, ada sesuatu yang mengusik fikiranku lebih dalam. “Mas Dimas” Tiba-tiba saja aku menjadi penasaran dengan sosok mas Dimas, anak dari bu Parsih. Seperti apa dia, apa mirip adipati dolken? Ah mirip brad pit ? Haha mustahil ! mungkin dia yang dulu pernah aku kenal? Yang nyamar jadi “Jono”, byuh Jelas ngawur !. Setiap malam aku menciptakan ribuan scenario pertemuanku dengan mas Dimas. Dari pertemuan romantis, hingga pertemuan tragis.

Aku kembali dari toko pak Gito. Ibu sudah ngomel terus dari tadi, karena dibuat cemas menunggu anaknya lama sekali. Bagaimana tak lama, panggung opera ibu – ibu rumpi begitu menarik. rasanya gak mau pergi, apalagi kalau topiknya soal mas Dimas.

“ ndok, kok lama, ono opo to?”  Tanya ibu penasaran.

“ mboten buk, tadi di ajak ibu – ibu ngobrol” jawabku tersenyum.

“ yowes, yowes” ibu memalingkan wajah sebal menunggu lama. Aku tertawa-tertawa sendiri melihat wajah ibu, karena biasanya bapak juga sebal nunggu ibu lama kembali dari toko di pertigaan jalan itu. Sama persis seperti ibu saat ini.

“ ono opo to nduk, kok senyum senyum dewe”(dewe = sendiri) Tanya ibuk penasaran,

“ ndak buk, kadang bapak juga nesu kalau nunggu ibuk lama balik dari sana. Persis seperti ini” (nesu = ngambek)

. “ ono –ono wae nduk, ibu – ibu iku lucu kalau cerita, jadine ibu yo penasaran kelanjutan ceritanya nduk, jadi melu to akhire buk’e ” ibu cekikikan.

“ buk, menurut ibuk mas Dimas itu gimana?”

“ lha kenopo to nduk Tanya Dimas, kamu Trisno ? (Trisno = suka,cinta )

“ aku Gendis buk, Trisno lagi di lading haha”

“ duh Gusti, punya anak kok semprul begini to yo”

“haha, buk Gendis penasaran saja”

“ husst, ndak usah to nduk pensaran sama mas Dimas, ibu ora seneng”

“ lah kenapa buk, katanya dia baik”

“ bu Parsih lo nduk, sing marai ibuk gak seneng. Wes nduk ndang mandi, sekolah!” ibu menghentikan pembicaraan, rasanya aneh. Aku menjadi makin penasaran sama mas Dimas ibu bilang begitu.

Besok adalah Try Out untuk kelas 3, seluruh siswa kelas 3 dipulangkan lebih awal. Aku dan teman-teman berlarian keluar kelas, dani, tyas, ningrum , kino mecari teman masing – masing untuk bermain atau belajar, atau jalan-jalan. Sedangkan aku, tak ada rencana apapun. Pasti ibu bakalan marah kalau aku pulang terlambat.   “ ndis ayo ikut belajar kelompok” ajak Nur. “ ndak Nur, aku pulang saja. ibu nanti khawatir” aku menolak ajakan Nur, walapun sebenarnya aku ingin sekali ikut, tapi ibu pasti marah. “ yah.. eh aku ada ide ndis, Gimana kalau dirumah kamu aja?” Nur memberi pilihan agar aku tetap ikut. Akupun mengiyakan usulan Nur. Lagian mana bisa mereka belajar kelompok tanpa aku, siapa yang mau ngajari mereka haha .

Nur adalah sahabat terbaikku, juga tetangga paling keren yang aku miliki. Dia teman paling ajaib dari yang lain. apapun yang kulakukan, jika bersama Nur semua menjadi mudah dan menyenangkan. Kita sering menyebut kelompok kita sebagai dektektif, para pencari  informasi soal Mas Dimas.

“ ndis, mas Dimas katanya besok mau pulang loh. Kamu gak penasaran?” celetuk Nur ditengah tengah suasana serius belajar .

“ husst, pelan-pelan Nur” jawabku

“ ada apa to Ndis, kamu sudah gak jadi agen dektektif lagi ?”

“ tetep to Nur, tapi ibu ndak suka sama dia. Mangkane jangan keras – keras kalau nyebut nama mas Dimas. kita harus hati-hati sekarang. eh gimana kalu kita namai dia Mr. x.  keren kan ? biar ibu ndak curiga. Gimana besok sore kita kumpul di pos pelangi ” .

“ jantungku copot rasane, tak piker kenopo. Haha pancet wae kamu ndis, nekat. Yowes ayo besok tak tunggu, aku sih terserah kamu ndis. Cara berfikirku tertinggal 500 meter dari kamu. Jauh ! haha ” Nur cekikikan. (pancet = tetap)

Keesokan harinya, Try Out menjadi sedikit menyenangkan. 50 soal aku selesaikan dalam waktu singkat, mungkin karena aku sangat bersemangat. Suasana masih hening, waktu masih 40 menit lagi. Tapi aku sudah selesai mengerjakan seluruh soal, jangan berfikir aku ngawur ngerjainya. Tapi memang soal – soal ini sangat mudah. Ribuan kali aku mempelajarinya. Jadi aku sudah hafal. Aku langsung berdiri dan berjalan ke depan kelas. Membuat satu kelas gugup, mereka fikir waktu tinggal sedikit lagi. Nur masih tertinggal didalam. dibandingkan aku, dia sulit mengguraikan soal – soal dalam kertas aneh itu. Tahu sendiri, katanya dia tertinggal 500 Meter dari aku. Tangaku sudah keringat dingin, gugup mau bertemu mas Dimas. Padahal seharusnya aku lebih gugup mengerjakan soal try out, bukan malah deg – degan mau bertemu seseorang yang bukan pacar, bahkan sekali saja aku tak pernah tahu wajahnya. 30 menit belalu, Nur baru keluar dari kelas. Dia sedikit sebal karena aku minggalkanya lebih dulu. Tapi dia tak akan sempat marah padaku.

“ buk, Gendis apa kabar? “  Tanya Dimas

“ kamu pulang – pulang ndak nanya kabar ibuk sama bapak, malah nanya gadis kampung itu” jawab Bu parsih sewot. “ ibu ndak boleh begitu. Bapak sama ibu kan sudah ada disini. Aku penasaran saja sama Gendis bu, waktu kecil dia lucu sekali. Aku sering diam-diam naruh bunga di meja kelasnya dulu”

“ ibu ndak ngerti, lagian itu Cuma cinta monyet, kamu dulu kan masih SMP to Dim” ibu Dimas masih sewot dengan Gendis, dia tidak suka anaknya bergaul dengan anak desa yang kalah jauh sama dia. Bu Parsih sendiri berharap punya mantu bule, atau minimal anak kota.

Gendis, Nur, dan Widya berjalan menuju pos kampling pelangi, jaraknya hanya 100 Meter dari rumah Dimas, jadi lokasi strategis untuk melihat kedatangan Dimas.

“ Ndis, jelas iki lagi jumpa pens” kata Nur.

“ beeeh, kok banyak orang gini Nur” kataku

“ Ndis, balik haluan ja gimana? Sesok wae, pura-pura lewat sini pas berangkat sekolah?” usul widya

Kita akhirnya putar balik, menuju rumah Nur. Mengurungkan niat bertemu mas Dimas, lelaki yang di puja-puja Gadis di desa ini. Dimas yang baru saja turun dari mobil, berusaha mencari wajah yang sangat ingin ia temui. Tapi ia tidak bisa menemukan wajah itu. Dimas sedikit kecewa, juga Gendis. Mungkin tuhan lagi pengen mereka tidak saling bertemu.

Keesokan harinya, 3 gadis itu pergi kesekolah lewat depan rumah mas Dimas, Gendis celingukan mencari sosok pemuda tampan yang di puja – puja para gadis di desa ini. Tumpukan surat juga kado sudah berjejer di depan rumah mas Dimas.

“Byuh, mas Dimas kayak artis pulang kampung saja yo” kataku.

“iya lo Ndis, sayang kemarin kita balik haluan” jawab Nur

Mas Dimas itu seperti apa wajahnya, jangan-jangan mirip adipati dolken beneran. Jelas aku mulai ngawur lagi membayangkan mas Dimas seperti itu. Nur dan Widya berangkat duluan. Aku masih harus foto copy di depan sekolah, saat itu ada seorang lelaki yang datang menghampiriku, wajahnya tampan, rambutnya kelimis rapi, persis seperti adipati dolken. bahkan aku fikir itu beneran adipati dolken.

“ mas adipati dolken?” kataku ngawur.

“ iya” jawabnya sembrono

“ eh seriusan?” kataku

“ serius, tadi ngawur jawabnya” katanya

“haha kirain beneran, maaf”

“masih SMP?”

“ orang nyata-nyata pakai putih abu-abu dia nanya masih SMP?

“haha, bercanda, kirain pura-pura aja. Mukanya masih imut” dia menggodaku.

“ duluan mas”

“ aku masih nanti, kamu saja dulu yang masuk”

“ jenis wong mblarah iki”

“ what?”

“ ora paham mas? aku pamit duluan mas. Mpun leres?”

“ haha, mbuh ora – ora “

“ hahaha,bye!”

Aku cekikikan sendiri dijalan, jelas mas adipati tadi gak paham apa yang aku omongin, wajahnya sih kayak bule, aku yakin dia bukan asli orang sini.

“ Nur, aku tadi ketemu mas mas lucu, Kembaranya mas adipati dolken, ganteng sih, tapi mblarah” kataku

“ yo koyo kamu to ndis, ayu, manis, pinter, tapi mbalarah” jawab Nur.

“ terus..”

“nabrak to Ndis”

“haha, ayo ke kelas Nur, tambah gak karu-karuan yang di bahas” (*karu-karuan = kemana-mana)

Aku dan Nur kembali kekelas, membagikan selebaran latihan soal dari pak Rahman yang aku foto copy tadi. Dito yang kata teman-teman suka denganku, tanpa disuruh langsung mengambil setengah kertas yang aku bawa dan membantu membagikanya pada teman-teman yang lain. kadang suka risih Dito kayak gitu, tapi berhubung banyak untungnya jadi aku mau-mau saja.

setelah pelajaran selesai, aku dan Nur pulang kerumahku, disana ibu sedang bikin kue enak. Nur yang ratunya makan kue tak mau ketinggalan hadir di pesta kue dirumahku, banyak juga warga yang datang. Istilah umumnya lagi selamatan.

“ ee, nak Dimas rawuh (Datang) juga to ?” suara bapak keras terdengar telinga kita. Aku dan Nur gugup gemetaran, penasaran ingin melihat wajah mas Dimas. kue ditangan Nur langsung di buang begitu saja. tanpa sengaja kena bi minah yang lagi duduk – duduk di kursi makan.

“ bocah – bocah kuwi sembrono” bu minah ngomel. (Anak-anak itu sembarangan)

“ maaf, sengaja bi” Nur cekikikan

“Nur, yang mana mas Dimas?” tanyaku

“lha masa aku ya paham wajahnya to Ndis, kamu kan sering menggambarkan wajah mas Dimas tiap mau tidur, barang kali kamu punya kekuatan gaib, bisa liat wajah orang. haha”

“sepertinya begitu Nur, akan ku buka kekuatan Gaib yang aku punya. Tahan Nur, mungkin akan ada getaran magis yang keluar”

“sudah kuduga, dia memang gak waras” Nur geleng geleng mendengar jawabanku.

“ haha, eh Nur, ada mas adipati. Dia kok disini kirain dia dari planet mars?”

“ siapa to Ndis, daerah mana itu Ndis?”

“sebelah kiri semarang Nur, sebelum perempatan. Itu lo yang duduk di sebelahnya pak Gito”

“jelas ngawur kowe Ndis ! walah, mas ganteng yang tadi pagi kamu certain itu to?”

“kamu percaya ? iya ”

“ percaya kamu musyik tau!”

Dibanding mas Dimas yang gak jelas itu, aku sekarang lebih tertarik dengan mas adipati. Kayaknya dia cocok masuk tim dektektif kita. Dia bisa jadi agen dari planet Mars. Dan entah dia pakai tipuan sihir ciptaan siapa, yang jelas dia sudah menyihirku untuk berhenti penasaran dengan mas Dimas. Ibarat warna mas Dimas itu abu-abu, gak jelas. Detik ini juga aku, nur, dan widya membuat pertemuan rahasia untuk menghentikan misi pencarian tentang mas dimas.

“Nur, kita cari tahu tentang mas adipati aja yuk, dia cocok dijadikan agen dari planet Mars”

“terus mas Dimas?” Tanya Nur

“Buang aja, dia terlalu abu-abu. Gak jelas kayak hantu !”

“terus gak jadi dijodohin?” Tanya widya

“ogah ! nanti aku kayak orang gila. Pacaran sama hantu” kataku

“ apalagi ibunya ibunya judes” kata widya

“ jadi ?” Tanya Nur

“ ya kita ke planet Mars Nur, njemput dia? Kataku

“Serius” Widya dan Nur kompak.

“serius lah” jawabku

“ kamu gila !, aku ndak siap Ndis, tempatnya di semarang to. Jauh, ibu bisa marah2” jawab widya polos, mempercayai omonganku yang ngelantur.

“hahaha” aku dan Nur ketawa cekikikan.

“Widya, Widya, kamu jadi orang kok polos amat sih. Gendis kok kamu percayai. Jelas Musrik” Kata Nur

“ Mboh, Mboh. Aku Nesu, mesti aku gak paham sama omongan kalian” kata Widya.

Malam itu kita ngobrol asik, bahas yang aneh-aneh. Planet Mars, gurun sahara, toko pak Gito, gangster yang bermukim di toko pak Gito, ah kalau kamu ikut disini pasti perut buncit kamu berangsur kempes. Kenapa kempes? Pikir saja sendiri. haha

Pagi ini aku berangkat sekolah agak siang, soalnya tidak ada perlajaran. Didepan sekolah tepat di pertigaan jalan sebelum tempat foto copy, mas Adipati turun dari mobil sedan putihnya. Sekilas terlihat seperti panggeran yang turun dari kuda poninya.

“mas adipati “ teriakku

“eh, makhluk aneh “ jawabnya.

“ aku aneh, mas adipati apa?”

“ artis lah !”

“ sak karepmu lah !” (terserah kamu)

“ ora “

“ haha, mas adipati asli mana sih”

“ planet Mars”

“sudah ku duga, kamu dari planet Mars, mau gabung sama agen kita gak? Ada lowongan jadi agen rahasia dari planet Mars” aku berbisik “tapi ini rahasia”.

“oke, deal. Bagaimana aku bisa menghubungimu, punya ponsel?”

“ opo to kuwi, ponsel? Telpon rumah aja. Aku punya. Atau datang aja ke pos kampling norak di pertigaan jalan. Kadang kita suka buat pertemuan disana”

“ haha. Sudah kubilang. Makhluk aneh kan”

“ ish, emang tau?”

Dia hanya tersenyum, kembali masuk ke mobil. Aku hanya bisa cengegesan karena dapat kesempatan ngobrol untuk kedua kalinya dengan mas adipati. Setelah dipikir – pikir. Kenapa aku tidak bertanya siapa namanya. Masa iya , aku panggil agen Mars, makhluk luar angkasa, atau mas adipati seperti biasanya. pasti orang bakal mengira aku gila beneran. Ah bodo amat. Aku masuk kelas dan belajar dengan tenang. Tapi mustahil, aku termasuk orang yang tidak bisa tenang dalam belajar.  Mungkin maksudku belajar dengan giat.

Sepulang sekloah seperti biasanya, kita kumpul di pos pelangi, pos yang sering ku katai pos norak. Sampai sekarang aku masih penasaran kenapa warnyanya seperti itu, kuning, hijau, biru, ungu, merah, pakek ada bullet-buletnya. Sudahlah aku jamin tidak ada artistiknya sama sekali. Bikin mata sakit. Tapi inilah satu-satunnya tempat teraman untuk kita kumpul. Gangster rumpi itu tidak akan sampek tahu rahasia kita.

“ hey agen mars, disini” teriakku

“ jadi aku beda sendiri disini?” dia langsung bertanya tanpa menyapa duluan

“ kita sama, Cuma beda makhluk. Kamu makhluk logika, kita makhluk perasaan”

“ haha, kamu unik”

“ taruh di museum kalau bisa”

“ jangan. Nanti banyak yang nyuri”

“ paling juga kamu”

“iya”

“ehh, jelas ngelantur. Kenalin itu si ratu makan dan bocah ajaib, namanya Nur. Lahir di bulan. Dan itu Widya, pengikut komunitas telmi seindonesia. Lahir di sini-sini aja. Kamu?”

“ aku Dirga, lahir di planet Mars”

“sudah kuduga, kamu jelas mblarah kayak Gendis” kata Nur

“Gendis kamu manis” kata mas Adipati

“terimakasih”

“ bukan, arti namanya maksudnya”

“ Jelas nyata kalau aku lebih manis”

Pertemuan ketiga kita benar-benar membuat aku lupa soal mas Dimas, aku jadi lebih sering memperhatikan makhluk Mars itu. Mau tau kenapa? Dia mirip adipati dolken, serius ! dan juga dia makhluk Mars. Jelas aku ngelantur lagi. Sudahlah, Ibu saja sudah pasrah dengan anaknya yang agak gak waras ini.

Pertemuan selanjutnya dirumah Nur. Widya tidak ikut karena sakit. Aku dijemput sama mas Adipati sepulang sekolah, eh Dirga maksutku. Sepanjang perjalanan,  Mas Dirga selalu curi-curi pandang padaku, sesekali tersenyum manis, hatiku gemeteran. Tiba-tiba muncul keinginan jalan berdua dengan Mas adipati, ah Dirga. Ah sudahlah mas Adipati saja, sudah kebiasaan. Aku punya perjanjian dengan diriku sendiri, kalau aku bisa jalan berdua dengan mas Adipati. Aku akan bolos sekolah sehari. Kenapa bolos sekolah? Karena itu hal yang tidak aku sukai, jadi rasanya berat.

“Ndis, kita batal kerumahku ya, aku di telfon bude disuruh mampir rumahnya”

“ eh kenapa Nur? Kataku kaget, karena barusan saja aku punya fikiran ingin jalan berdua dengan mas Adipati. Ternyata jadi nyata. Sial aku harus bolos besok kalau hari ini bisa jalan sama mas Adipati. Seneng sih tapi besok ada pelajaran matematika.

“oh ya, kalau begitu aku antarkan kesana ya?” ajak mas Adipati.

“ maaf ya, kalian bisa berdua aja kan?”

Nur diantarkan mas Adipati ke rumah budenya, tinggal aku dan mas Adipati berdua. Suasana menjadi canggung  tidak seperti biasanya. mungkin karena aku mulai menaruh rasa.

“ Ndis, jadi kemana?” Tanya dia.

“ Terserah, aku ndak ada ide. Asal jangan pulang”

“ oke”

Eh, dia tidak menjawab, langsung membawaku pergi.

“ Ndis, ke taman ya”

“ mau apa?”

“ambil roket, kita ke Mars”

“ngapain? “

“kencan”

“eh,”

Tiba-tiba jatungku berdetak kencang, aku tersenyum kegirangan. Mungkin aku hanya geer saja kali ya. Tapi ketika berdua begini rasanya gimana ya. Susah dijelaskan. Yang penting bisa bikin wajah memerah.

“dulu kegiatan kalian ngapain aja?”

“Gak banyak, banyak yang gak penting, mencari info soal artis dikampung kita?”

“emang ada?”

“ada, namanya mas abu-abu, eh salah mas Dimas”

“kamu suka dia?”

“em, awalnya penasaran saja, gangster ibu-ibu itu selalu jodoh-jodohin aku sama dia, jadi penasaran deh, tiap pagi yang dibahas dia mulu. Tapi belakangan ini aku jadi males. Dia abu-abu gak jelas. Katanya di rumah, tapi jarang muncul. Mungkin dikurung sama ibunya.”

“masak sih, mungkin dia berubah jadi monyet. Kamu suka dia?”

“ ogah ! banyak rumor yang bilang, ibunya ndak suka sama gadis-gadis di kampung, dia mau di jodohin sama makhluk mars (sebutan bule). Ah aku juga curiga kalau dia berubah jadi monyet”

“ kamu makhluk mars juga, kamu bule”

“mustahil”

“iya bagi orang Malaysia, haha”

“kampret”

“ jadi kamu suka siapa? Suka aku?”

“iya, eh” jawabku menutup mulut, sambil salah tingkah.

Dia hanya tersenyum mendengar jawabanku, tiba-tiba dibalik kursi mobilnya ada bingkisan yang khusus diberikan padaku. Tapi sama dia disuruh buka pas dirumah tepat jam 12 malam. Karena hujan, kita Cuma ngobrol didalam mobil. Gak jadi turun ke taman. Bahas yang tidak-tidak, seperti cara meluncur dari Bumi ke Mars. Atau cara ngisi Air di planet Mars, atau cara ngerias monyet. Kalau kamu dengerin, jelas kamu sudah telpon rumah sakit gila.

Waktu berlalu begitu cepat, mas Adipati mengantarku pulang kerumah. Ibu sedikit khawatir, karena Nur juga belum datang. Setelah sampai dirumah, mas adipati ikut masuk kedalam, pamit ke ibu karena sudah mengajakku pulang malam. Ibu lega, karena ternyata ada yang nganterin, anaknya baik dan sopan katanya.  Setelah mas Adipati pulang, aku langsung masuk kamar. Cuci muka terus ganti baju, lanjut buka kado dari mas Adipati.

Ternyata isinya, sepucuk surat berwarna biru pink, dua-duanya warna kesukaanku.

“ selamat ulang tahun makhluk bumi, cah ayu dari dataran tinggi Indonesia – dari Makhluk Mars Adimas Dirgantara”

Badanku lemas membaca surat yang hanya ada 2 baris kalimat saja, Adimas? Seperti tahu dengar nama itu. Ah sudahlah mungkin Cuma kebetulan tahu aja. Aku penasaran dari mana dia tahu kalau hari ini ulang tahunku. Aku saja lupa. Tapi berkat sepucuk surat yang sebenarnya isinya biasa-biasa saja, aku jadi nyenyak tidur.

Keesokan harinya saat berangkat sekolah, Nur nitip surat izin tidak masuk karena ada keperluan keluarga di Surabaya. Aku jadi berangkat sendirian. Berharap ada alien yang terbang  lewat sekitar, terus ngasih tumpangan ke sekolah. Kan jadi seru. Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil.

“Ndis, kok sendirian” kata mas Dirga

“iya, agen Nur lagi dapet tugas kenegaraan”

“yuk tak anterin”

“ah ndak papa, aku jalan saja. nanti mas Dirga bisa telat kerja”

“haha, sudah masuk sini”

“iya”

Aku diantar mas Dirga yang mau berangkat kerja, baunya wangi, bajunya rapi. Gila makhluk Mars yang tampan. Coba aku bisa jadi istrinya. Tiap hari aku pasti bersemangat.

“Ndis ngelamun?” Tanya mas Dirga

“lagi berimajinasi mas” jawabku

“tentang aku?

“bukan, tentang wajah mas Dirga”

“kenapa Ndis”

“ Antik, mau tak masukin museum”

“haha ambil saja, taruh dirumahmu”

“nanti dimarahin ibu”

“aku yang izinin”

Aku semakin cengingisan sendiri, sempurna seperti orang gila. Gila jatuh cinta sama mas Dirga. Kalau saja dia minta aku jadi pacarnya. Tidak mungkin kutolak. Sayang dia selalu cengengesan dan kesanya tidak serius. Atau jangan-jangan dia memang serius. Oh tuhan, pikiranku mulai kemana-mana. Mau ku tali biar gak kemana-mana, tapi dia suka berontak.

“Ndis kita sampai” kata mas Dirga bangunin aku dari pikiran yang kemana-mana.

“loh kok masuk kedalam?” kataku

“ aku kerja disini Cah ayu”

“jadi apa”

“jadi pacar kamu”

“byuh, ngelantur bae kamu mas”

“kenapa ndak mau?”

“iya mau sih, eh”

Aku turun dari mobil mas Dimas, siswa-siwi pada penasaran siapa yang sedang orang yang didalam mobil mewah itu, maklum disini jarang sekali ada mobil. Hanya ada 5, bapak dan bu Parsih salah satunya. Mas Dirga turun dari mobil juga, siswi perempuan langsung bergerombol  pengen liat mas Dirga. Aku sedikit kesel, bahasa lainya cemburu. Tapi aku kan bukan pacarnya, tapi barusan dia bilang mau jadi pacarku, tapi sambil bercana. Sudahlah, aku tidak mau banyak mikir, dan langsung masuk kelas. Teman-teman pada nanya siapa dia, aku jawab aja “Makhluk Mars”, siapa suruh nanya ke aku. Uda tau aku gak waras.

“Ndis, ndis kabar heboh” widya ngos-ngosan ngomong ke aku.

“Mas Dirga kan?” kataku

“kok kamu tahu”

“Radar agen rahasia wid”

“kok aku gak punya”

“kamu kudu mandi bunga 7 rupa wid” (kudu = harus)

“semprul kowe ndis!”

Widya langsung duduk disebelahku, karena Nur lagi gak masuk. Pak Darmuji tiba-tiba masuk ke kelas, membawa Mas Dirga disebelahnya. Aku masih tertidur malas di atas meja.

“Ndis bangun, pak Darmuji datang”

“eh, kok cepet jam masuknya”

“anak-anak ini pak Dirga, kepala sekolah kita sementara. Pak Darmuji mau pergi keluar Negeri 1 bulan. Jadi sementara di ambil alih sama nak Dirga” kata pak Darmuji.

Aku langsung tercengang mendengar perkataan itu, bukanya mas Dirga masih umur 22 tahun. Tapi memang di desa kami, kalau ada lulusan sarjana, apalagi dari luar negeri mereka beranggapan bahwa dia dapat diandalkan dalam urusan apapun dia juga akan di segani. Juga bapak, bapak mas dimas, mas Dimas, dan mas Dirga.

Tapi kalau aku suka mas Dirga, aku pacaran sama kepala sekolah dong, ini buruk. Harus di hentikan.

Sekolah hari ini begitu rame dengan datangnya mas Dirga, ujian tinggal 2 minggu lagi. Aku makin malas belajar, mungkin karena keseringan. Jadi aku lebih suka ke kantin sekarang.

“ Gendis” sapa mas Dirga

“loh mas Dirga, eh Bapak kepsek” kataku

“makhluk Mars ndis”

“ husst, Rahasia”

“pulang bareng?”

“ndak mas, eh pak, sungkan sama siswa lainya” (sungkan = perasaan tidak enak hati)

“ panggil mas saja, lebih romantis”

“ eh, haha”

“jadi gimana”

“jadi iya”

Sepulang sekolah, aku diantar pulang mas Dirga, sebelumnya kita beli es degan di pinggir sawah. Sejuk. Seperti senyum mas Dirga.

“ Ndis, lulus sekolah mau jadi apa” Tanya mas Dirga

“ nikah mas, cita-cita mulia”

“ haha, terus?”

“ nabrak mas, berhenti dulu liat haluan”

“haha, mau cari pasangan yang gimana Ndis”

“ kayak Mas Dirga”

“ haha”

Obrolan kita selalu menjurus pada perasaan masing-masing, tapi tidak pernah dianggap serius. Mungkin bagi mas Dirga aku masih anak kecil. Belum pantas jadi sandinganya.

Ujian berlalu, aku berhasil melewatinya dengan mudah, aku sudah menebak pasti peringakat satu lagi. Kadang bosan mau pindah peringkat tapi apa boleh buat, tuhan terlalu baik padaku. Seluruh nilaiku tak ada yang buruk. Kecuali pemikiranku yang kadang ngelantur kemana-mana.

Hari itu, sabtu pagi. Masih kuingat sekali, setelah wisuda kelas 3 SMA, bu parsih dan suaminya datang kerumah ibu. Jangan berburuk sangka dulu, mereka bukan mau ribut. Bu parsih membawa banyak makanan, dan pakaian. Juga perhiasan emas yang di taruh di kotak warna merah berbentuk hati. Aku terkejut bukan main, saat ibu masuk kekamar memanggilku.

“ buk, wonten nopo?”

“ ada rejeki nduk, ndak boleh ditolak”

“bukanya ibu ndak suka bu parsih”

“ ini beliau datang sendiri nduk, berarti beliau masih mau merendah dan menghormati kita”

Sekilas perasaanku campur aduk, tinggal dikasih bawang sama ayam. Jadi Nasi campur. Bedanya rasanya gak enak. Aku juga tidak bisa menolak lamaran ini, kata ibu ndak baik. Akhirnya bapak menerima lamaran dari mas Dimas, tapi dia tidak datang sendiri, diwakilkan bapak dan ibunya. Jariku manisku sudah melingkar cincin emas 20 karat. Kalau kamu lihat bisa bikin iri, cantik sekali kupakai. Tapi aku masih penasaran, kenapa mas Dimas mau melamarku. Padahal dia tidak tahu aku, apa mungkin ini ulah ibu-ibu rumpi. Ah mustahil, mereka kan ndak suka sama bu Parsih. Sejenak hatiku lulu lantah, mengiri lukaku, yang kehilangan dirimu. Bacanya sambil nyanyi. Lagunya Samson kali ini bikin hatiku merinding, keingat mas Dirga. Orang yang aku sukai. Dan harus aku sudai.

“ buk, mas Dimas iki gimana to bentuknya” tanyaku

“Kotak nduk” jawab ibu ngawur

“ah ibuk, aku penasaran?”

“ ya kamu nanya bentuknya? Ibu kan gak salah jawab to. Emm.. intinya dia sholeh, baik ibu suka, Cuma ibunya mas mu yang ibuk agak gak srek, tapi ibuk setuju. Katanya bu Parsih kalian sudah kenal to nduk?”

“ha, ibu ini aneh2 bae to, tau wajahnya saja tidak”

“yang ikhlas nduk, insyaa allah barakah. Gendis ndak marah to sama ibuk”

“Mboten buk, Gendis nurut sama ibuk saja. lagian ndak baik nolak rejeki hehe”

Sore harinya aku pergi kerumah Nur, ada mas Dirga juga. Rasanya mau nangis kalau ketemu mas Dirga, berat buat melepas rasa suka padanya. Tapi aku sudah mau menikah. Mau gak mau, harus bisa buang rasa jauh-jauh.

“Eh, calon pengantin to” celetuk Nur yang kemarin juga datang bantu masak dirumah.

“opo to Nur”

“Gengs Rumpi sukses jadi biro perjodohan Ndis. Haha”

“ semprul kowe Nur”

“sebentar Ndis, aku bikini minum”

Tinggal aku berdua dengan mas Dirga disana, banyak yang ingin ku jelaskan sama mas Dirga, tapi takut kalau cuma aku yang kege’eran. Mungkin juga mas Dirga gak butuh penjelasanku sama sekali.

“eh Makhluk  Mars” kataku

“what?” katanya

“ngapain?”

“Bikin lintasan ke panet Mars” jawabnya dengan muka serius.

“biar apa?”

“biar kamu cepet kesananya”

“dih, aku di bumi saja”

“bentar lagi aku mau ngajakin kamu kesana pakek lintasan ini”

“ngapain?”

“biar bisa wujudin cita-cita kamu”

Aku menelan ludah, jangan-jangan mas Dirga suka sama aku beneran. Jangan-jangan apa yang kemarin dia bilang di mobil itu beneran. Tapi bagaimana ini, aku sudah akan menikah. Coba kalu dia lebih cepat. Aku jelas milih dialah. Jelas sekali.

“ nangis Ndis?” Tanya mas Dirga

“Kelilipan”

“aku tiupin” rasanya hatiku deg degan mas Dirga niupin mataku, merasa bersalah juga sedih. Sudah bikin dia jatuh cinta padaku. Kuberanikan diri bilang padanya kalau aku sudah dilamar mas Dimas kemarin.

“Mas Dirga, aku kemarin dilamar orang”

“Aku tahu?”

“kok bisa?”

“ ya tahu aja”

“mas Dirga gak cemburu?”

“jelas cemburu, tapi tetap saja. nanti kamu bakalan ke Mars juga sama aku”

“nikah sama kamu gitu mas?”

“iya”

“jangan ngelantur”

“aku serius”

“ haha”

“nanti malam aku kerumah ya”

“jangan, ibu bisa marah”

“Sama calon mantu gak mungkin marah”

“kan calon mantunya ibu mas Dimas. mas Dirga maaf tapi aku ndak suka mas Dirga kayak gitu, aku mau menikah dengan orang lain. mas Dirga ndak boleh suka sama Gendis”

Wajahku sedikit garang, sebal sama mas Dirga yang nekat gitu. Tapi dia tetap dengan wajah yang santai. Malah cengingisan (ketawa), aku jadi gak yakin tadi itu beneran. Mungkin dia Cuma ngingesing aku saja.

Pulang dari Rumah Nur, aku tidak diantar mas Dirga, aku menolak takut ibu marah. Jadi Nur yang nganterin aku pulang. Setelah dirumah, Nur langsung pamit ibu balik kerumah.

“lho kok langsung bali Nur?” kata ibu

“sepedahnya mau di pakai bapak buk, nanti saja kesini lagi” kata Nur

“padahal, nanti malam mau ada nak Dimas kesini, katanya penasaran to Nur?”

“hah? Duh nanti malam aku kesini lagi buk, jalan kaki sama Widya hehe”

Setelah Nur pulang aku membantu ibu masak didapur sama bi minah juga. Karena mas Dimas mau kesini. Kalau di buat gak suka, jelas aku gak suka mas Dimas datang. tapi mau bagaimana lagi, dia calon suamiku jadi aku harus berusaha menerima dia. Dan celaka, aku lupa kalau mas Dirga nanti malam mau kesini juga. Aku mau bilang ibuk, tapi takut. Jadi aku langsung telfon Nur untuk datang kesini lebih awal, biar mas Dimas gak curiga dengan mas Dirga.

“ Ndis, kowe sembrono. Mau nikah sih ono urusan sama mas Dirga, kok bisa?”

“namanya suka Nur, ndak isa di paksa. Juga di cegah”

“yowes, yowes”

Nur kesini sendirian, Widya nyusul setelah magrib nanti. Rencanaya mereka mau nginep dirumah, bantu-bantu ibuk bikin jajan. 3 minggu lagi acara pernikahanku. Kata ibu, nanti mas Dimas mau datang nganterin undangan buat di sebar. Aku jadi semakin frustasi, kepikiran mas Dirga. Sebenarnya kalau boleh memilih aku lebih memilih mas Dirga, Unik. Pasti gak bosenin.

“Assalamualaikum” terdengar suara lelaki yang tidak asing dari telingaku, sepertinya itu mas Dirga.

“Waalaikumsalam, ndok buka pintunya. Ibu sih repot” jawab ibu.

“loh mas Dirga” aku terjekut. Dugaanku 100% benar.

“sudah dibilang aku akan datang, bertemu ibu mertua”

“eh mas Dirga, jangan kenceng-keceng bilangnya”

“ kamu takut”

“bukan aku Gendis”

“loh, buk calon mantumu datang ikilo” tiba-tiba bapak keluar  dari kamarnya dan bilang kalau dia calon mantunya. Aku jadi terkejut. Mataku terbuka lebar, ling-lung gak paham. Selama 10 detik aku minjem otaknya widya.

“oh, Nak Dimas to, duduk nak. Mau minum apa?”

“air putih saja buk”

“ kok ibuk manggil mas Dimas?” Aku masih berdiri didepan pintu tidak percaya.

“ terus sapa to nduk, ya iki mas Adimas Dirgantara, calonmu” jelas ibuk

Aku tetap berdiri di depan pintu, bengong lihatin mas Dirga. Asli perasaanku seneng,juga malu minta ampun. Sering nggosipin mas Dimas di depan dirinya sendiri. Kadang suka ngata-ngatain jelek. Mau ku robek saja muka ini. Terus minjem muka Widya yang telmi.

“ ndak mau duduk ndis, didepan terus?” kata mas Dirga

“ hehe”

“ini nganterin undangan dari planet Mars”

“uda jadi lintasanya” kataku

“barusan jadi”

“ Terus?”

“Nubruk Ndis, haha”

“mas Dirga, eh mas Dimas. kamu ndak marah ?”

“Panggil makhluk Mars aja kalau bingung”

“kok gak jawab?”

“yang mana”

“yang barusan”

“makhluk Mars?”

“ sak karepmu mas”

“ haha, kan sudah aku bilang, aku akan mewujudkan cita-citamu ndis, masih kurang jelas”

“kurang”

“tak tambahin dikit biar manis”

“sudah manis”

“emang”

“apaan?”

“kamu ndis, sudah manis, jangan ditambah-tambahin lagi. Nanti aku diabetes”

Malam itu, pembicaraan masih sama saja, tidak berubah. Ngelantur kesana kemari. Bahas kalau menara eifel jungkir, terus kalau nikah di planet Mars aja, abis itu bahas kalau jadi presiden di planet Mars. Entahlah pasangan aneh.

“Ndis, mas pulang dulu. Jangan rindu. Nanti susah tidur. Aku gak tanggung jawab”

“kalau aku susah tidur, aku jalan-jalan ke bulan sama nur, mau bikinin rumah buat Widya biar gak ikut sekelompok orang telmi mulu”

“buatin satu buat aku”

“buat apa”

“jangan tinggal di Mars, jauh sama bulan. Nanti bagaimana nasib agen kita. Nikahnya aja disana. Rumahnya di bulan. Sebelah Nur sama Widnya”

“byuh, lanang wadon podo semprul.e sing di bahas ora-ora” ibuk cekikikan sendiri liat anak sama mantunya gak waras.

“biar ibu ndak cepet tua, buntuh banyak senyuman buk. Saya pamit dulu buk. Asaalamualaikum.”

“Waalaikumsalam”

Malam ini seperti  dapat undian berhadiah. Ternyata mas Dirga adalah mas Dimas. aku ndak jadi galau karena harus berpisah sama mas Dirga. Gak jadi nyanyi lagunya samsons lagi. Pantesan tiap aku rumpi soal mas Dimas. dia cengingisan mulu.

“Nur, kamu tahu. Siapa mas Dimas itu?”

“tahu, lha wong aku tadi liat. Dadaku nderodok, tak pikir mas Dirga mau merebut kamu dari mas Dimas” (nderodok = deg-degan,kaget)

“haha, suweneng aku nur”

“bungah saiki awakmu Ndis, pancen ibumu beruntung punya anak kamu, ayu, pinter, mantune pak camat, selain itu jadi suamine mas Dirga. Sayang kok rada gak waras” (bungah = senang,bangga)

“ koyo awkmu waras Nur”

Setelah malam itu, hari-hari kulalui begitu cepat. Pernikahanku dengan mas Dimas tinggal menghitung hari. Aku sudah tidak sabaran menati hari itu. Juga bertemu dengan mas Dimas. kamu tahu adat jawa sedikit menjengkelkan. Aku tidak boleh keluar sama sekali minggu ini.  Tapi ndak apa lah, sekali keluar kan ketemu mas Dimas, dipelaminan lagi.

“Ndok, besok jam 4 ndang bangun terus mandi, periase datang jam 5” teriak ibu. Besok adalah hari pernikahanku, seluruh rumah dipenuhi warga yang sedang bantu-bantu. Juga teman-teman SMA ku yang ikut serta membantu. Nur dan Widya sudah seminggu ini aku suruh tidur dirumah menemaniku. Malam ini juga. Pesta terahir acara menginap kita.

“Ndok ada telfon, angkat” teriak ibu

“enggeh buk” jawabku

“halo”

“Hai Agen manis, laporan dari Planet Mars, bahwa anda harus ditangkap karena pesta sendiri tanpa ngajak agen dari planet Mars” aku tahu suara itu mas Dimas yang sedikit di samarkan dengan penutup kain.

“haha, Agen Mars, tidak masuk daftar, karena jenis makhluk berbeda” kataku

“kalau begitu, besok aku akan menghukummu”

“terserah, besok aku milikmu”

“kamu besok milik tukang rias”

“kok bisa”

“bisa, lihat aja kemarin udah tak serahin ke dia”

“buat apa?”

“hukum kamu jadi cantik, soalnya biasanya cuma manis aja”

“ ehh”

“sudah tidur, besok kamu kondean, ngantuk dikit bisa tidur beneran haha”

“suami macam apa dia”

“macam macam, sampai bertemu besok dipelaminan sayang”

“ iya”

Dunia mau runtuh rasanya, ketika dia memanggilku sayang. Padahal aku tahu dia calon suamiku. Tapi tetap saja seperti orang baru pacaran. Memang iya kita baru pacaran setelah menikah. Bukankah itu hal yang paling menyenangkan.

“Ndis, besok kau mau bikin rencana apa di planet Mars” Tanya Nur

“Paling main seluncuran”

“kok seluncuran?” Tanya Widya

“dia yang ngajak”

“salah nanya kowe Wid, wong yo paham temenmu ini gak waras” kata Nur

“eh Ndis, kamu gak takut malam pertama? Tanya Widya

“gampang, kalau serem aku kabur”

“haha, bocah semprul”

Keesokan harinya aku memakai baju adat jawa, kebaya warna putih. Dan banyak melati di kepala. Baunya wangi. Aku suka. Mas Dimas pakai jas hitam, rapi. Subhanallah gantengnya. Diiringi sholawat nabi mas Dimas masuk ke dalam Rumah yang sudah di siapkan tempat buat akad. Aku masih belum boleh keluar. Setelah akad baru boleh keluar.

“Saya terima nikahnya dan kawinya Gendis fatmawati binti sarjono dengan maskawin yang tersebut tunai”

“sah?”

“sah”

“Alhamdulillah”

Mendengar bapak mudin membaca doa, aku segera di giring keluar duduk disamping mas Dimas untuk tanda tangan surat Nikah. Setelah itu aku mencium tangan mas Dimas yang sudah resmi menjadi suamiku. Nur dan Widya menangis di pojokan karena terharu. Kabarnya bulan depan Widya juga akan menikah. Tinggalah Nur sendirian di bulan. Makin kenceng nangisnya Haha

Hingga saat ini, dia masih menjadi suamiku. Aku juga sudah punya 2 pasukan cantik dan tampan. Namanya Dirga dan Adinda yang nama belakangnya ada kata Marsnya hehe. Sekian cerita singkat antara Gendis dan Adimas Dirgantara. Semoga yang baca bisa terhibur. Salam dari agen planet Mars.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s