Cinta Segitiga Princess Jones

mbem-quote-cinta-segitigaMasa lalu bagiku seperti hantu. Kadang suka datang tanpa di undang, kadang bikin kaget, bikin kesel, kadang juga bikin nangis, juga bikin senyum. Setiap orang punya masa lalu, begitu pula aku. Namaku Fira Sinatrya, alumni Universitas Hang Tuah, jurusan Ilmu Komunikasi. Walaupun nama lengkapku Fira Sinatrya, teman-teman suka memanggilku Rara.

Kau tau, dulu aku sering di kenal dengan sebutan princess jones di kampus, cewek aneh yang ngaku-ngakunya pecinta lelaki tapi tidak pernah pacaran. Bukan karena aku pecinta sesame jenis atau gak laku, hanya saja aku masih ragu dengan hatiku. oh tidak,  tepatnya aku masih ragu dengan dia.

Ini adalah ceritaku bersama lelaki yang ingin menikahi wanita lain. 3 orang yang terjebak dalam cinta segitiga.

Hari itu matahari sangat terik, kita mendapatkan tugas mata kuliah komunikasi lintas budaya, untuk tinggal di suatu desa selama 2 minggu. Kebetulan aku satu kelompok dengan kak Galih, kakak kelasku yang ikut mata kuliah ini juga. Kita di tempatkan di desa Margomulyo, daerah perbatasan Bojonegoro Ngawi.

Kita berencana untuk berangkat hari Rabu saat malam hari. Kak Galih bertugas sebagai pemimpin kita, Heru sebagai wakilnya. Untuk sekertaris dan bendahara di serahkan pada Jihan dan Resta. Kenapa tidak aku? Karena aku pura-pura sakit, tidak hadir ketika rapat penentuan petugas utama hehe. Aku bosan jadi petugas utama, bikin pusing, jadi aku tidak ambil bagian diasana. Tentu ada alasan khusus kenapa aku melakukan itu, aku hanya ingin duduk santai saja, dan gak mau ribet. emm…  istilah lainya aku mau merasakan suasana pedesaan yang alami hihi, siapa tau pas lirik-lirik dapat jodoh. haha

Waktu berlalu, semua persiapan dan perizinan selesai, bahan-bahan juga sudah di siapkan. Rabu malam jam 22.00 kita berangkat menuju lokasi. menggunakan mobil kak Galih dan Jihan, irit pengeluaran haha.

Aku memilih satu mobil dengan kak Galih. Jangan mikir aneh-aneh, soalnya aku dan kak Galih sudah berteman sejak semester satu. Asli teman tanpa pemanis buatan ya kadang ada garamnya dikit, biar gurih.

“ ayo berangkat, keburu malam” teriak kak Galih

“OK ” jawab teman-teman

Kita segera menuju mobil masing-masing, perjalanan kira-kira 6 jam dari Surabaya. Semua anak tertidur lelap, kecuali aku. Mana mungkin si supir biarin aku tidur, dia sengaja nyuruh aku duduk di depan untuk siaran radio bersamanya (saling becakap-cakap).

“heh, jangan tidur. Nanti kalau ada apa-apa gimana? ” katanya

“hmm” jawabku

“semalem gak tidur lagi?”

“kalo iya?”

“bandel ni anak, kalau nanti sakit aku juga yang repot”

“lagian gak ada yang nyuruh kamu repot-repot”

“ ish.. kamu tidur mbem? “

“hmmm..”

“tega ni anak ninggalin aku nyetir sendiri”

“bodo ah”

Tiba-tiba mobilnya berjalan pelan-pelan, wajah kak Galih cemas, aku bertanya berkali-kali tidak dijawab, aku jadi ikut panik, bagaimana tidak? jam sudah menunjukan pukul 23.00 malam, sudah jarang mobil lewat. Rombongan Jihan juga sudah jauh didepan. aku mencoba membangunkan teman yang lainya. Tapi dilarang oleh kak Galih. Tak lama kemudian, dia meminggirkan mobilnya.

“mbem gawat, mogok !” katanya

“ what?” aku kaget

“kamu bisa ndorong kan?”

“oh tuhan ! yaudah bangunin yang lain, nyenyak amat tidurnya kayak kebo ! ” aku cemberut, meyilangkan kedua tanganku di dada, sambil bersandar di depan mobil.

“katanya ngantuk, kok semangat banget !” katanya

“enggak sih, tadi cuma pura-pura aja, haha ” jawabku

“ sudah kuduga !”

Kak Galih masuk kedalam mobil dengan muka menahan tawa, aku yang mengetahuinya segera masuk dan melemparnya dengan tempat tisu kain. Kejadian seperti ini sudah tidak asing lagi bagiku. Sudah seperti rutinias harian, baginya aku ini semacam mainan unik yang bisa bikin hatinya bahagia. Dan aku dengan polosnya tertipu ratusan kali.

“oh kampret, kurang kerjaan banget sih lu ” kataku

“ siapa yang mulai pura-pura duluan” katanya

“ya kan aku cuma pura-pura tidur”

“ya kan aku juga pura-pura mogok”

“terus kita main pura-puraan gitu”

“terus kamu pikir kita harus serius-seriusan gitu”

“gitu aja sampai lebaran monyet” aku cemberut

“eh mbem.. monyetnya agamanya hindu, jadi gak lebaran”

“ gak selesai-selesai dong”

“kecuali kamu tulis kata – TAMAT – haha“

“bodo ah, bodo, aku tidur”

Didalam mobil, ketika semua tertidur. Aku dan kak Galih nyerocos (ngobrol) terus, persis seperti dua sejoli yang lagi siaran radio. Sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia, tuh kan jadi kebablasan nyanyi. yah semacam kek kepulauan Indonesia. Kita nyambung satu sama lain kalau lagi ngobrol.

Kak Galih adalah sahabatku yang di daulat oleh teman-teman menjadi bodyguadku. Gimana enggak? Kalau ada yang nyakitin aku, dia yang bagian bales. Kalau aku sakit, dia yang repot nyariin obat. Kalau ada tugas, dia yang jadi alarm pengingatku. Kadang aku juga gak rela kalau dia bilang suka sama orang lain. tapi apa boleh buat, aku hanya sekedar cewek aneh yang beruntung di anggep sebagai adek bohonganya. Kadang juga di kira pacarnya, kalau lagi beruntung sih.

“Ra, kalau kamu punya pacar, lagi jauh-jauhan gitu gimana?” katanya

“ya gak masalah, tinggal di deketin aja, haha” kataku

“serius Ra”

“ya putusin aja, nyari yang deket”

“onta juga paham kali Ra”

“ya kamu nanya gitu sama aku, mana bisa jawab. Kan gak pernah pacaran jauh-jauhan”

“jadi pacaran jarak deket”

“ya kagak”

“terus”

“gak pernah pacaran, haha”

“kampret, gue lupa kalau lagi berhadapan dengan princess jones ”

“hmm, bodo !”

“eh mbem. Pas di bandung aku ketemu cewek, wajahnya cantik, rambutnya lurus, tapi dia jahat sama aku, udah jalan lama sih. Tapi dia gak peka-peka”

“kurang kali kodenya” aku memalingkan wajah “ emm, emg kak Galih suka banget sama dia”

“banget deh. Lain kali adek aku yang bawel ini harus ketemu sama dia ”

Mendengar kata-kata itu, hatiku pilu, sepilu drama korea. Kalaupun kecewa juga sia-sia, aku bukan siapa-siapanya. Banyak yang bilang kalau  pacar kak Galih mirip artis, anaknya cantik, kulitnya putih, rambutnya panjang. Tau sendiri anak bandung cantik cantik, dibanding dengaku gak ada apa-apanya. Sempat sedih ketika mendengar curhatan dia, tapi apa boleh buat persahabatan ini lebih berarti dari apapun. Sedih senang kak Galih selalu ada untukku. Dan aku gak mau jadi pecundang yang menjauh dari kak Galih gara-gara perasaan yang belum tentu benar. Tapi gak tahu lagi kalau pacarnya ada disini. Mungkin aku bakal terlupakan.

Pukul 15.00 kita sampai di lokasi, disambut oleh ketua ikatan pemuda Margomulyo, namanya mas Rendy, keponakan dari pak kepala desa.

“ sugeng rawuh” katanya

“dia bilang apa mbem?” Tanya kak Galih

“ nanya siapa yang namanya sugeng? Aku cekikikan

“gak ada sugeng mas”

Seluruh anak-anak menahan tawa, karena kak Galih begitu saja percaya padaku. Siapa suruh tadi pura-pura mobil mogok, bikin panik aja.

“loh, endak mas, maksudnya selamat datang” jelas mas Rendy

“issh,, awas kamu mbem ! ” katanya mencubit pipiku.

“ish, sakit” aku kabur, pindah tempat di sebelahnya Resta

“maaf, saya gak bisa bahasa jawa mas, maklum orang bandung. Saya Galih”

“oh, iya ndak papa. Saya Rendy” katanya

“mas Rendy, salam kenal. Aku Fira, tapi panggilannya Rara, kadang juga mbem” aku mengulurkan tangan.

“banyak banget mbak panggilanya” dia tersenyum polos

“iya mas, lagi mau ngoleksi banyak nama, nanti mau aku jual haha” kataku

Setelah saling berkenalan, mas Rendy membawa kita kerumah pak lurah, yang juga adalah pamanya. Kita berencana akan menginap dirumah pak lurah selama 2 minggu. Kebetulan beliau mempunyai 2 rumah, rumah satunya milik anaknya. Tapi hanya di gunakan ketika libur hari besar saja.

“Mas Rendy rumahnya mana?” tanyaku

“itu mbak, disebelah Balai Rw” jawabnya

“oh di kebun itu”

“bukan kebunya mbk, sebelahnya lagi”

“ya kan tadi bilang di sebelahnya Balai Rw, kan kebun”

“hehe, mbak ini ada-ada aja to”

“Rara, jangan panggil mbak. Lagian juga tuaan mas Rendy kan?”

“iya mbk, eh Ra”

“nurut amat sih mas, haha”

Percakapan itu, menjadi awal pertama kedekatan kita. juga menjadi awal mas Rendy menaruh hati padaku, bagaimana tidak. Baru bercakap-cakap sejam. Dia sudah salah tingkah, terpeleset di depan rumah pak lurah. Haha.

“Dari mana kamu?” kata kak Galih

“abis ngobrol sama mas Rendy” kataku

“oh,ini jaket buat kamu, cuacanya dingin nanti kamu sakit” kak Galih memakaikan jaketnya padaku.

Bagaimana aku tidak terlena, setiap hari dia memperhatikanku sudah seperti kekasihnya saja, dia lebih tahu diriku dari pada aku sendiri, penyakitku, alergiku, makanan kesukaanku, kebiasaanku, ah kalaupun aku tulis, 50 lembar pun tak cukup. Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa disalahkan.

Sore itu, setelah beres-beres, kita berkumpul di tempat yang kita sepakati sebagai balai pertemuan. Sebenarnya hanya perwakilan saja, tapi kak Galih memaksaku ikut. Mana bisa dia kemana-mana tanpaku. Pasti dia cemas, yah baginya aku mungkin seperti jimat yang harus di bawa kemana-mana. Mamaku dan mamanya kak Galih sudah saling kenal, dia sering bercerita tentangku kepada kak Galih dan memintanya untuk menjagaku, karena aku sangat lemah dan mudah sakit.

“ Kamu ikut?” katanya

“ aku kan bukan tim inti? Udah 5 anak aja” jawabku

“cepet ! bangun.. tanpamu membosankan haha”

“aih, yadeh”

Kita berjalan menuju padepokan seni yang disepakati sebagai balai pertemuan, karena tempatnya luas dan dekat dengan tempat kita menginap. Sepanjang perjalanan hanya terdengar suara jangkring serta hewan-hewan lainya, sepi, dan menyeramkan. Rumah-rumah sudah pada tutup, padahal baru jam 7 malam. Setelah sampai disana, aku bertemu dengan mas Rendy lagi. Wajahnya adem, khas wajah pedesaan. Senyumnya juga manis. Tapi sedikit norak sih menurutku.

Pertemuan kali ini membahas tentang budaya modern yang masuk ke dalam desa ini, sebagian besar sudah memakai peralatan modern dalam beraktifitas, contohnya motor gede milik mas Rendy. Tapi hanya 2 orang saja yang punya, termasuk mas Rendy. Alat komunikasi juga sudah ada, tapi jaringanya susah. Kecuali telepon rumah. Cara berpakaian sudah modern, hanya saja pola berfikirnya masih primitive sekali. Untung saja orang disana bukan penganut aliran gosip, karena menurut leluhurnya,kita tidak boleh saling menyakiti satu sama lain, baginya sumber permasalahan semua berawal dari mulut,nanti bisa nular ke tangan, akhirnya masuk ke hati. Oleh karena itu, mereka berhati-hati sekali dalam bertutur. Walaupun begitu, adalah 2-3 jenis orang yang melanggar norma tersebut.

Terlepas dari semua itu, ada yang lebih unik. Mas Rendy, dia unik sekali, kadang aku terpesona oleh wajahnya yang lugu, sholeh sekali, membuatku ingin mengenalnya lebih. Dibanding kak Galih, dia tidak terlalu tampan, rajin ke mushola dan pekerja keras. Kalau Kak Galih dia punya usaha sendiri di bidang art director, tampilanya keren, juga sholeh. Mungkin mas Rendy versi tradisionalnya kak Galih.

Hari ini aku mau beli sesuatu di kota, awalnya mau minta anterin kak Galih tapi dia lagi sibuk, aku senggol sedikit saja dia marah-marah. Mau dibilang lagi PMS, jelas ngawur kan dia cowok haha, tapi asli kelakuannya hari ini bikin sebel saja. akhirnya aku minta anterin mas Rendy ke kota mau beli sesuatu. Tapi aku gak mau naik motor gedenya, jadi dia minjem motor pak lurah. Haha, aku emang suka bikin orang repot.

“ gak papa mas minjem motor paman km” tanyaku

“yo ndak papa mbk”

“maaf ya ngerepotin”

“kalau buat mbak Rara ya gak papa”

“ish .. nanti kalo ada minimarket berhenti ya”

“iya mbk”

Sepanjang perjalanan, dia curhat soal pemuda pemuda kampung, juga permasalahan lain-lainya. Aku begitu antusian mendengar ceritanya. Menurutku dia beda dari yang lain. sampailah kita di tempat tujuan. Aku turun dari motor kemudian masuk kedalam minimart. Dan aku sangat kaget, ketika dia muncul dari belakangku mengulurkan tangan, membayar semua belanjaanku. Mana mungkin aku menolak rezeki. Ya aku terima saja.

“mas, duduk dulu” kataku

“Iya, eh kalau boleh tau mbk Rara ini jurusan apa?” katanya

“jurusan Surabaya”

“loh, kuliah ada jurusan Surabaya”

“ada”

“baru tau aku mbak, hehe”

“haha”

“ini minuman apa to?”

“yogurt, tau?”

“oh itu, semcam jamu mbak? Besok kalau mbak mau aku sediain di kampung biar gak jauh-jauh ke kota. Rasanya enak mbak, aku mau coba ”

“makasih mas, gak usah repot-repot”

“aku juga sering minum susu dirumah mbk, ibu yang bikinin”

“oh ya? , eh.. disana ada kebab, beli yuk”

“apa lagi itu mbak?”

“makanan enak mas,haha” , “mas Rendy mau?”

“boleh”

“mau yang rasa apa?”

“sama seperti pesanan mbak Rara saja”

“minumnya apa?”

“sama juga seperti mbak Rara”

“Ok”

Semakin lama pembicaraan kita menjadi membosankan. Terkesan dia ingin selalu menyamai pemikiranku, juga kesukaanku. Ketika aku berkata aku suka warna Hijau, dia bilang juga suka hijau. Aku bilang aku orangnya pemalu, dia juga begitu. Aku bilang suka menyanyi, eh gak taunya dia bilang pernah jadi vocalis band SMPnya. Oh tuhan, memuakkan ! hal yang paling aku benci, ketika dia tidak menjadi diri sendiri. Ah tadi aku sudah terlanjur happy ngobrol denganya, dan tanpa sengaja membuat dia semakin tertarik padaku.

“mbak Rara seru, asik, aku suka” katanya

“ haha, bagus. Kamu menyadarinya” kataku

“ah mbak Rara ini”

“haha”

Gara-gara pertemuan singkat itu, mas Rendy menjadi aneh padaku. Dia tiba-tiba sering mengirim pesan singkat di ponselku, hanya untuk mengingatkan makan, sholat, dan mengucapkan selamat pagi. Aku bukan anak kecil lagi, tak perlu lah sampai berlebihan seperti itu. Tapi karena aku takut menyakiti hatinya, aku tetap membalas pesanya sesekali dan tetap berhati-hati.

Keesokan harinya, aku dan kak Galih pergi jogging. Kebetulan melewati rumah mas Rendy. Asli aku malas sekali melihat wajahnya. Seandainya dia tidak terlalu buru-buru melihatkan ketertarikanya padaku. Mungkin aku bisa jatuh cinta beneran dengan dia. Kamu tahu? Menjengkelkan sekali, melihat orang yang ingin terlihat sama dengan kita

“ Hai, mbak, mas. Boleh gabung to ?” Tanya mas Rendy

“Hayuk mas, silahkan “ jawab kak Galih

Mbk rere ini suka makanan apa to?” tanyanya

“ Rara ini kalo pagi suka makan bakso, kalau malam sukanya makan soto. Bener gak mbem?” kata kak Galih mewakiliku.

“that’s right” jawabku menepuk bahu kak Galih

“ wah kebetulan aku juga suka, kita seleranya selalu sama ya”

“haha, iya kebetulan”jawabku

“mbk Rara, aslinya aku ini juga suka bercandaan kayak mbk Rara. Di kampung aku terkenal paling asyik lo”

“oh, begitu. Pantes mas Rendy banyak yang ngefans” aku pura-pura saja tahu kalau dia terkenal.

“hehe, mbak Rara juga ngefans kan?”

“ haha, buset. Mbem kau ngefans sama dia? Kalian cocok mbem, perkumpulan dua orang aneh” kata kak Galih, berlarian cepat meninggalkan aku dan mas Rendy.

Perkataan terahir kak Galih membuatku merasa aneh, tak tahu virus mana yang tiba-tiba masuk. Hati ini seperti sedang di obrak abrik. Berantakan sekali, sepertinya aku terluka. Padahal tidak ada yang melukaiku. Perasaan terluka ini tak seharusnya ada padaku, mungkin tepatnya aku takut kak Galih terluka dengan kedekatanku dan mas Rendy, tapi ternyata dia malah bahagia, dan kenyataan itu menyakitkan.

Kadang suka kasihan dengan mas Rendy. Aku selalu mengabaikan keberadaanya. Seperti tak terlihat namun ada . Tapi apa boleh buat, hati tidak bisa di manipulasi.

“ kenapa mbk?”tanyanya

“hmmm” jawabku

“mbk Rara mau balik apa mau jalan lagi? Kalau jalan lagi aku temenin ya”

“hmmm”

“kok hmm lagi mbak?”

“udah lah mas, bisa diem gak! Aku mau balik dulu”

Aku kembali dengan muka lemah,lesu, dan lunglai. Bukan berarti aku sedang anemia. Bagaimana tidak? , perkataan tadi membuatku marah “kalian cocok?” dua kata itu saja sudah mewakili perasaanya padaku, dan juga keraguanku tentang dia. Aku pernah berfikir bahwa cewek bandung itu hanya sebagai kedok belaka untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia menyukaiku. Dan.. Ah mana mungkin ! dasar Rara tukang mimpi.

Malam ini, aku tidak bisa tidur lagi, sulit sekali memejamkan mata. Banyak yang menggangu. Rasanya ingin ku bunuh. Ah serius banyak nyamuk, aku ingin membunuhnya segera. Karena aku tidak bisa tidur, aku mengambil laptop di ruang tamu, melihat beberapa foto liburan kemarin bersama teman-teman lainya. Menyenangkan sekali ketika bisa bersenang-senang dengan kak Galih tanpa ada beban perasaan. Jika tuhan memberikanku kekuatan untung mengulang waktu, aku ingin sekali mengulang hari itu. Dimana perasaanku masih terlalu ringan padanya, dimana aku tidak tahu tentang kekasihnya, dimana aku masih berharap sebagai sahabat dekatnya saja. Kadang aku berkhayal, kenapa mama tidak menjodohkanku saja dengannya seperti kisah di film Ftv itu. Bukanya ibu ku dan ibunya sudah saling mengenal. Ah sayangnya ini adalah dunia nyata, bukan settingan seperti dalam film Ftv. Aku yakin tuhan punya rencana lain.

“ belum tidur Ra?” kata kak Galih

“ banyak nyamuk kak” kataku mengusap air mata

“abis nangis, disakitin Rendy”

“bukan urusanmu tau”

“terus urusan siapa?”

“aku lah”

“urusanmu ya urusanku juga mbem” dia mencubit pipiku

“ah, udah ah, gak seru kak”

“kenapa sih?”

“ aku bilang bukan urusanmu, aku mau tidur!”

“oke oke, yaudah tidur sana. Sudah aku kasih obat nyamuk di kamar”

Aku akhirnya tertidur pulas. Tidak perduli dengan apapun perasaan yang semakin hari semakin membahayakan ini. Mungkin karena aku dan kak Galih 24 jam bersama. Jadi aku tidak bisa mengontrol perasaanku.

Hari ke 7, tak terasa setengah perjalanan kita disini. Mas Rendy masih dengan ritual paginya yang menjengkelkan. Kak Galih masih dengan predikat bodyguardku yang 24 jam selalu ada. Dan aku? disini hanya aku yang mengalami perubahan. Semakin hari semakin menyedihkan.

“hey princess jones” sapa Resta

“ ish, what?” kataku sedikit marah

“ ah, aku tahu kenapa kau tidak pernah pacaran?”

“ sok tau ah, emg kenapa?”

“kamu nungguin dia kan? Udah tau kalau dia udah punya pacar. Dia gak mungkin cemburu kamu dekat sama lelaki manapun. Aku lihat kemarin dia ngobrol berdua sama mas Rendy. Sepertinya kalian sudah di restui haha”

Aku terdiam, apa mungkin karena dia. selama ini aku selalu menolak para lelaki. Karena aku ingin menjaga perasaannya agar tidak cemburu? Eh tapi buat apa? Bukanya dia tak akan merasakan itu. Sekarang aku jadi sadar betapa bodohnya aku. Akhirnya aku membuat hipotesa bahwasanya : Aku ingin dia menjaga perasaanku, karena dia tidak melakukanya. Maka aku yang menjaga perasaanya. Ah tepat sekali, dugaan ini benar. Tapi kenapa aku melakukan itu dan kenapa malah aku yang terluka? Sudahlah !

Sejak hari itu, aku menjadi tak begitu ingin bertemu ka Galih, ternyata semua tidak seperti yang aku inginkan. Bersahabat? Dengan lelaki? Dan hanya sebatas sahabat? Ah mana mungkin ! itu mustahil untukku. 24 jam bertemu membuatku yakin, bahwa hanya aku yang memiliki perasaan padanya.

“mbem lagi apa?”

“lagi mikir”

“tumben ih, mbem aku mau ngenalin kamu sama seseorang”

“hai, aku Gita”

“hai, aku Rara”

“ini yang sering aku certain Ra, cantik kan?”

“ah iya kak”

“dia kesini cuma buat ketemu aku , kebetulan dia lagi di magetan. Mampir kesini sebentar … “

Suara kak Galih perlahan terasa mengecil, kepalaku seperti berputar-putar, dan aku pun masuk kedalam kegelapan.

“ aku dimana?” tanyaku

“ kau tak apa Ra?” jawab kak Galih cemas

“ kepalaku pusing”

“ kamu kenapa gak bilang kalau lagi gak enak badan sih, sudah kubilang jangan bergadang, jangan sering-sering main air di sungai. Kemana-mana pakai jaket”

“ aku udah dewasa, aku bisa jaga diri !”

“kamu kenapa sih Ra? cerita dong”

“aku mau istirahat kak”

Aku pura-pura memejamkan mata, agar kak Galih cepat pergi. Namun tak sengaja aku mendengar percakapan Gita dan kak Galih.

“ dia siapa kak?” kata Gita

“ teman” jawab kak Galih

“teman, tapi kok segitunya sih?”

“bukan hal yang perlu kamu khawatirkan git”

“ bukan? Kamu aneh. Berapa sering kita batal ketemu cuma gara-gara dia? Berapa sering waktu untukku kau hapus dan memberikan waktumu untuknya? Aku teman dekatmu yang juga tunanganmu, dia sahabatmu, kita tak sama. Tapi mengapa perlakuan kamu berbeda? Apa hanya aku yang merasa bahwa semua ini dipaksakan ! ”

“Gita, diam ! 3 bulan lagi kita bertunangan. Jangan hanya gara-gara masalah seperti ini semua batal”

“tunangan ? katakana cinta padaku saja kamu tak mau!”

“Gita, please “

Tunangan ? satu kata itu benar-benar membuatku sesak, perasaanku juga semakin rumit. Apakah aku ini pengganggu? Atau apakah aku ini korban? Atau aku sebenarnya pemeran utama? Aku harus menempatkan diriku dimana? Aish, rasanya kepalaku mau pecah. Ah Beginikah rasanya mencintai seseorang yang mencintai orang lain. kadang aku ragu denganya, selama ini aku apa baginya? Apakah benar hanya seorang teman, sahabat, atau adik? Sedang aku, aku yang sejak awal memulai perasaan dengan menganggapnya teman, terjebak dalam perasaan yang rumit ini. Bagaimana aku menjelaskan perasaanku padanya ? semua sudah terlihat bergitu jelas, aku mencintainya, dia mencintai yang lain, dan perhatiannya untukku hanya sebatas adik, tapi apakah benar hanya sebatas adik?. Teka teki ini begitu rumit, sulit di pecahkan, seperti soal matematika. Aku hanya ingin tidur, tidur untuk waktu yang lama. Dan ketika aku bangun. Semua perasaan ini menghilang.

Doaku terkabul, setelah semalaman aku menangis. Tuhan memberikanku waktu tidur yang lama, kondisiku memburuk. Aku sendiri tak ingat, ketika aku terbangun, dokter mengatakan aku sudah seminggu tertidur pulas, katanya juga aku hampir saja di ambang kematian. Tapi tuhan berkehendak lain. setelah aku tersadar, kak Galih tak pernah datang menemuiku. Bahkan Gita, dia juga tak muncul lagi di hadapanku.

1 bulan berlalu, aku sudah bosan dengan makanan rumah sakit yang hambar itu, juga dengan bau obat-obatan yang menyengat. Aku ingin pulang, aku ingin tahu kabar kak Galih, juga teman-teman lainya. Mama akhirnya mengabulkan permintaanku, tapi aku masih belum boleh keluar rumah selama 2 minggu. System kekebalan tubuhku masih buruk.

“ ma, kak Galih gak kesini?” kataku

“ enggak sayang, dia kan lagi sibuk kuliah” jawab mama

Anehnya, aku tidak ingat sama sekali kejadian yang aku alami sebelum aku koma, juga percakapan itu. Sama sekali aku tidak ingat.

“hai princess jones, welcome to home sweet home” teman-temanku datang memberi ucapan selamat

“ ah, kalian.. makasih ya” aku bahagia sekali, tapi ada satu hal yang kurang. Seharusnya dia ada.

“ kak Galih mana?” tanyaku

Semua teman –teman terdiam, tak berbicara apapun. Mungkin mama sudah melarang mereka untuk menjawab pertanyaanku. Aku merasa curiga. Jelas ada yang aneh.

“ ma kak Galih mana?” tanyaku

“ sayang, dengarkan mama ya. Galih pindah ke Bandung dengan mamanya. Dia belum sempat pamitan sama kamu, waktu itu kamu masih dalam keadaan yang buruk, jadi mama melarangnya datang. Semua untuk kesehatanmu sayang” jawab mama

“ mama mana boleh melarang kak Galih datang. Mama kenapa tega sama aku”

Aku menangis sejadi-jadinya, aku belum siap tanpa kak Galih, aku belum siap melepaskan perasaanku untuk kak Galih.

 Waktu berlalu, tangisanku sudah mengering. Hatiku masih sama, berharap ada ke ajaiban untukku.Tapi tuhan memberi jawban lain. sore hari ketika selesai mata kuliah. Teman-teman berkumpul di kantin. Aku tak sengaja melihat mereka, seperti ada yang dirahasiakan dariku. Ah tapi aku tidak perduli, bukan urusanku. Aku sudah lelah dengan kak Galih, sudah cukup untukku.

3 hari lagi adalah hari ulang tahun kak Galih, aku sudah putus asa sekali. Ada banyak hal yang ingin ku ketahui dan aku sampaikan padanya. Aku tahu ini hal yang konyol dan nekat sekali. Tapi aku sudah memutuskan untuk pergi menemui kak Galih di Bandung. Mama sudah melarangku berkali-kali, tapi akhirnya aku menang dan beliau mengizinkanku pergi.

19 Oktober, dikala hujan turun. Aku sampai di bandung. Ditemani ribuan air dari langit yang turun dengan lembut. Ah dingin sekali, aku jadi teringat  kecerewetan kak Galih yang menyuruhku memakai jaket tebal. Ah .. Tuhan, aku benar-benar merindukanya. Setidaknya satu kali saja aku ingin bertemu.

20 Oktober saat malam hari, aku pergi ke tempat pesta ulang tahun kak Galih yang telah Bastian tunjukan padaku. Bastian adalah sahabat dekat kak Galih di Bandung . aku juga dekat denganya, kak Galih dan Bastian sudah seperti saudara sendiri.

Pukul 19.00 di café Gelato, semua temanya berkumpul, anehnya aku melihat Heru, Rezta, mas Rendy, ah banyak sekali yang ku kenal. Kau tahu aku merasa seperti orang mabuk yang sedang berkahyal berada di Surabaya.

“ eh mas, ini Bandung kan?” tanyaku

“iya neng, ini teh di Bandung” jawab seorang lelaki yang tak ku kenal

“ini ada acara apa ya mas?”

“ kagak tahu neng”

Aku merasa aneh disini, apa mungkin teman-temanku merencanakan ini tanpaku, apa dia takut aku akan merusak pestanya. Atau jangan-jangan kak Galih yang melarangku. Ah aku benar-benar marah, dan aku akan masuk untuk merusak semuanya haha.

“maaf, anda tamu dari mana?”

“ Univ. Hang tuah teman kak Galih. Fira Sinatrya, atau Rara”

“oh ya silahkan masuk”

Aku memasuki halaman belakang café yang cukup luas, dengan banyak hiasan bunga-bunga dipinggiran, dan kursi besi putih cantik sekali. Seperti dalam sebuah pesta pernikahan. Aku juga melihat tante Hera, mama dari kak Galih duduk dengan wanita paruh baya di sebelahnya.

“ hai Resta, Jihan, Heru, kalian jahat meninggalkanku” kataku

“ah , Ra kau kok bisa disini?” jawab Jihan

“Ra, ah .. em gimana ya” Heru gelagapan, bingung mau bilang apa

“hey kenapa? Kalian gak suka dengan kedatanganku ! mana kak Galih”

Belum sempat selesai mataku mencari kak Galih, Mc acara menyuruh kita diam, dan aku benar-benar terdiam.

“ sekarang memasuki acara ini, Galih dan Gita silahkan maju kedepan” kata Mc acara

Oh tuhan, ini benar-benar seperti dalam acara drama korea, hatiku menciut, kecil sekali. Ingin rasanya aku berlari sejauh mungkin, jauh sekali. Rasanya menyakitkan melihat mereka berdua diatas sana. Bertukar cincin saling melempar senyum. Bodohnya aku, jauh-jauh datang kemari hanya untuk terluka. Aku jadi sadar, kenapa dia tiba-tiba meninggalkan aku, dan aku juga paham kenapa hanya aku yang tidak di undang. Sudahlah setidaknya aku bisa mengucapkan selamat sebelum aku kembali.

“ Rara !” teriak kak Galih

“ hai kak, selamat ya ! aku sudah sembuh jangan khawatir” teriaku pura-pura bahagia

Setelah acara tukar cincin, kak Galih datang menemuiku. Tanganku gemetaran, mataku juga tak bisa menyembunyikan air mata. Dan akhirnya aku menangis di depanya.

“ Ra, maaf. Aku.. “ katanya terbata-bata berbicara, dan aku segera menyela.

“ tak apa kak, aku yakin kamu mengkhawatirkan keadaanku. Aku sudah sembuh dan baik-baik saja. aku juga gak lupa bawa jaket, minum air hangat, gak main-main air. Aku pasti ingat semuanya. Maaf, Rara sakit kemarin. Selamat ya kak?” aku mengulurkan mata, dengan tagisan yang aku tahan sekeras mungkin.

“Rara kuat ya ! tunggu kak Galih datang lagi” katanya

“haha, sama keponakan lucu yak kak, buat nemenin Rara nanti” kataku pura-pura bahagia

Mungkin kata kak Galih benar, sebelum aku menulis kata “TAMAT” kita bakal main pura-puraan terus, gak ada jeda. Kan monyetnya agamanya hindu, kecuali kalo dia mau jadi mualaf. Hihi

mbem-quote-cinta-segitiga1 tahun kemudian, aku sudah lulus dengan gelar sarjana, juga lulus dengan gelar princess jones. Kak Galih sudah punya 1 anak. Mendengar kabar itu aku ikut bahagia. Aku tahu dia melewati hal sulit kemarin. Ketika dia harus memilih antara aku atau Gita. Hal mustahil jika aku tidak terluka, pastinya. Orang yang begitu dekat denganku, orang  yang mengerti diriku melebihi diriku sendiri. Memilih menikah dengan orang lain. tapi semua itu sudah pergi, hari ini luka itu sudah kering. Benar-benar mengering.

Dear Princess Jones

Teruntuk adikku tersayang, orang yang aku cintai melebihi apapun, terimakasih telah merestui pernikahanku. Maafkan aku yang selalu membuatmu ragu. Maafkan aku yang selalu membuatmu bingung. Antara aku, kamu, dan Gita. Sejujurnya sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh hati padamu. Ibumu yang lemah lembut membuatku begitu nyaman berada di keluargamu, juga kamu. Aku juga sudah tahu perasaanmu padaku, tak sengaja aku melihat tulisan kemarahanmu di laptop kemarin. Tentang aku yang menjodoh-jodohkan kamu dengan Rendy. Juga ketika kamu koma, sebenarnya aku selalu disana, menemanimu dari jarak yang jauh. Mamamu melarangku datang karena takut kamu akan terkejut dengan berita pertunanganku, juga berita pernikahanku. Untuk itu aku sengaja menghilang darimu. Maafkan aku yang telah menjadi pecundang. Semua bukan kamu yang salah, aku yang telah membuatmu jatuh hati, dan aku juga yang mematahkanya. Tapi percayalah, bersabarlah bersama waktu, aku akan datang padamu. Maafkan aku yang sudah curang menikahi orang lain dulu. Aku tak tahu jika selama ini kau juga mencintaiku. dan untuk Gita, sebenarnya dia sakit keras, mungkin 3 bulan ini waktu yang tersisa untuknya. Selebihnya tuhan yang menentukan. Dan oh ya, aku sudah punya 1 pangeran lucu. Namanya Sinatrya Agata. Lain kali aku akan kesana bersama keluarga besar agata.

Salam manis, Galih Agata

5 bulan setelah surat itu ku baca, kak Galih datang dengan Sinatrya. Tapi hanya berdua saja. kabar buruknya, Gita telah meninggal 1 bulan yang lalu, 1 bulan lebih lambat dari perkiraan dokter. Aku turut sedih, karena dulu sempat membencinya. Tapi hari ini sungguh jantungku berdetak kencang melihat kak Galih dengan gagahnya berdiri di depan pintu rumahku, sudah lama sekali dia tidak muncul di depanku seperti itu. Dia tak pernah berubah sedikitkpun. Masih saja tampan seperti dulu. Dan oh tuhan, pangeran kecil sinatrya begitu tampan.

Pertemuan kita terus berlanjut, aku semakin akrab dengan sinatrya. Karena kita memiliki nama yang sama, aku dan dia bertingkah seperti ratu dan sang pangeran. Haha. Menyenangkan sekali. Dan satu tahun setelahnya, kak Galih melamarku. Sekarang aku dan kak Galih akan menikah, walaupun dia Duda. aku tidak mempermasalahkanya, yang penting dia bertanggung jawab. Buktinya walaupun dia mencintaiku, dia tidak pernah meninggalkan Gita. Dan juga kembali padaku akhirnya. Tunggu kisah selanjutnya dari kami ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s