Penyesalan

the_sunset_girl_by_marioos1-d4af6hg

Sore menjelang malam, bisa juga di sebut senja oleh gadis-gadis melancolis yang biasanya punya hoby menulis. Aku terjebak dikala senja, terpaku disudut jalan. Mencari yang tak pasti, menunggu yang tak tentu. aku masih saja disini, di perempatan kota yang telah kita daulat sebagai titik pertemuan.

Ya… aku masih mengingat hari itu, dimana kamu selalu menangis ingin pergi kesini, di alun-alun kota Sidoarjo.

Sejak SMA, aku jarang sekali berbaur dengan teman-teman wanita. Menurutku itu hanya membuang-buang waktu. Bukan berarti aku tak laku, aku cukup terkenal dikalangan para wanita. Banyak juga yang mengajakku pergi, dan aku selalu menolaknya. Bagiku mereka adalah orang-orang yang membosankan. Terkesan kampungan dan tidak tahu diri. Senyum dengan lelaki ini dan itu, main gandeng lelaki ini dan itu tampak gampangan (maaf). Ah lebih tepatnya seperti Gita, sekertaris kelas 3 IPS 2 yang katanya suka denganku. Lalu dia meng-klaim bahwa aku adalah pemberi harapan palsu karena selalu mengacuhkannya. Padahal saat itu aku hanya tersenyum padanya untuk menghormati dia, dan juga aku membalas chatnya hanya sekedar membalas saja.

Tentu saja dunia wanita memang begitu, tapi sama sekali aku tidak tertarik dengan dunianya. Sebenarnya kisah ini bukan soal Gita, tidak ada kaitanya sama sekali. Ini tentang dia, seorang gadis berlesung pipi dan berambut panjang. Dia adalah Hany Yunita, gadis penghuni kelas 3 IPA 1 yang tak lain adalah wakil ketua dikelasku. Sudah cukup lama aku meliriknya, gadis yang berbeda dari lainya.

“ Hany ?” tanyaku

“ iya kak?” jawabnya

“sudah mau pulang sekolah ya?”

“belum kak, ini lagi mau ke kantor guru”

“rumahmu mana han?”

“dekat alun-alun kak, sebelah ruko kang mamang”

“wah kebetulan searah, nanti pulang bareng aku aja” tawarku

“boleh, tapi Hany ke kantor dulu kak, keburu bu Gina pulang”

Hari itu kita pulang bersama, Hany mengajak Yuyun yang tak lain adalah sahabat dekatnya. Aku suka berbincang dengan Hany, membahas soal isu politik, atau soal masalah kemanusiaan yang akhir-akhir ini memperhatinkan. Semua yang kita bahas selalu menyenangkan. Dia adalah wanita tercerdas dan tersantun yang pernah aku kenal. Gadis yang suka menulis di bangku taman Alun-alun ini selalu saja tampak bahagia. Bersyukur dengan kehidupanya yang lebih baik dari para gadis-gadis pembawa gitar di Alun-alun kota. Setiap pulang sekolah dia selalu mengajakku singgah di rumah baca di Alun-alun kota. Dia membentuk sanggar membaca untuk anak-anak jalanan yang tidak memiliki keberuntungan lebih. Berkali-kali aku berusaha mendapatkan cintanya, berkali-kali usahaku hanya sia-sia. Sedih ? tentu ! tapi dia tidak pernah mengizinkanku untuk merasakan kesedihan itu. Berkali-kali juga dia menguatkanku, membuatku mengerti bahwa cinta bukan satu-satunya hal yang patut mendapatkan banyak perhatian di usiaku yang baru menginjak 17 tahun ini. Dia mengajakku berfikir bahwa masa depanlah yang harusnya banyak mengusik fikiranku. Bukankah ujian nasional sudah bergerak maju menghampiriku.

Sungguh dibandingkan gadis lain, mereka tidak ada apa-apanya. Untuk dia yang tinggal ditengah kota, memiliki keluarga yang berkecukupan, dan usianya pun masih sangat belia. Dia sudah mampu berfikir sejauh ini. Malu ? tentu ! aku malu padanya yang sudah dewasa. Sedangkan aku masih seperti anak-anak yang mengeluh soal kekurangan para wanita yang membosankan, contohnya Gita. Atau gadis-gadis lainya yang tak ku hiraukan.

15 July 2010 di Alun-alun kota, kita berbiacara cukup serius. Tentang bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Bagaimana aku yang masih berharap dia menerima cintaku.

“ hany, setelah ini kau mau lanjut kuliah dimana?” tanyaku

“ mungkin aku mau pergi ke Istambul” jawabnya

“ kamu serius? Terus bagaimana denganku?”

“iya. Nah kenapa Tanya padaku?”

“soal perasaanku padamu Han?”

“soal itu tanyakan saja pada hatimu”

“kau selalu memberikan jawaban yang semu han, aku tahu kau tak ingin berpacaran dan kau ingin serius pada masa depanmu, aku tahu kau sangat khawatir dengan masa depanmu jika denganku kan? Karena aku sama sekali tidak memikirkan masa depanku sepertimu !” aku marah

“ kau tak mengerti san, bukan begitu”

“lalu?”

“ sudahlah, aku tak ingin membahas ini lagi”

“lalu kau mau bahas soal apa? Kesedihanmu melepas anak-anak di sanggar itu”

“kau kenapa sih” hany mengerutkan alisnya

“kau Tanya aku kenapa? Oke Hany. Aku mengerti, kau menghindariku karena ingin menolakku kan? Aku sudah tahu itu. Sudahlah, aku pergi saja. Kau urus anak-anak di sanggar itu”

Aku pergi meninggalkan Hany sendiri, membuat perasaan Hany sakit begitu dalam. Tapi ini bukan perkara sakit yang dirasakan Hany, dia sangat pandai meredam amarah hatinya. Ini tentangku yang merasa sangat menyesal bertengkar denganya kala itu. Jika aku tahu esok dia akan pergi, aku tak akan menyia-nyiakan hari itu. Kini dia pergi, meninggalkan kenangan disudut kota, membuat senja tak lagi ceria.

Setelah kepergiannya baru kusadari mengapa Hany tak ingin membahas soal perasaaku. Sebenarnya perasaanya jauh lebih tersakiti, mengingat dia harus meninggalkan banyak hal yang teramat berharga baginya, keluarganya – anak-anak sanggar membaca dan aku tentunya. Aku baru menyadarinya setelah bi inem menyerahkan surat yang Hany tinggalkan untukku. Tentang perasaanya yang tidak ingin di ungkapkan, tentang rasa yang tidak ingin dia fikirkan terlalu dalam, karena akan sangat berat ketika harus meredam perasaan yang sudah terlanjur erat.

“ teruntuk sandi sahabat-ku yang berkali-kali meyakinkan persaanku, terimakasih untuk kesabaranya selama ini. Aku tak bermaksut menggantungmu di ribuan bintang-bintang di atas langit, menjanjikan kata-kata harapan manis yang nantinya akan menyakitimu juga. Cukup aku ingin kau tau bahwa aku bahagia atas 3 tahun persahabatan kita. Dan terimakasih telah menemaniku di Alun-alun kota yang akan jadi tempat bersejarah untuk kita. Maafkan aku yang tak penah benar berpamitan padamu. Mungkin hanya lewat kertas putih ini kutuliskan berjuta penyesalan dihatiku karena tidak bisa menemuimu. Ketika kau membaca tulisan ini, mungkin aku sudah ada jauh darimu. Aku berharap 4 tahun lagi tepat 15 Maret kita bertemu di Alun-Alun kota dibawah pohon besar yang telah kita daulat sebagai titik pertemuan. Salam – Hany Yunita “

15 Maret 2014, di Alun-alun kota. Aku disini lagi, menanti seseorang yang mungkin bisa datang kapan saja. Rona bahagia kala tahun 2014 datang. Bukan karena tahun ini aku lulus sarjana. Tapi karena tahun ini dia akan datang. Seseorang yang kunantikan kedatanganya. Sejak jam 2 siang aku duduk di bangku taman, memakai stelan kemeja navy dengan celana jens hitam, juga bau parfum yang menyengat. Jaga-jaga kalau dia bakalan telat datang. Tak lupa setangkai bunga mawar merah sebagai tanda cinta. Kata lagu-lagu jaman dulu sih hihihi.

Sayangnya janji yang dia tulis kala itu, tak dapat dia tepati. Aku sudah bersabar menantikanya 4 tahun ini. Tidak pernah tergoda sedikitpun pada wanita lain. Hanya buku-buku perpustakaan sebagai teman dekatku. Sudah 9 jam sejak aku duduk di sana. Tapi dia tak kunjung datang. Marah? Tentu ! tapi tenagaku sudah habis untu merasakanya. Percuma juga, no telp, email, media social, satupun tak dapat kutemukan. Aku memutuskan untuk pergi kerumahnya. Akan tetapi rumah tersebut sudah menjadi milik orang lain sejak 3 tahun yang lalu. sempurna sudah patah hati hari ini. Perasaan kecewa ini menjadi-jadi kala tak ada tempat untukku mencurahkan segala amarahku. Aku telah salah memilih jalan untuk tidak memiliki teman dekat satupun. Kini saat aku membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hatiku, aku tak punya.Teman lelaki juga tidak akan ada memahami perasaan ini. Hingga akhirnya kutemui Desita, cewek satu kelas waktu dikampus. Satu-satunya cewek yang perduli padaku, walaupun aku selalu mengacuhkanya. Kucurahkan segala isi hatiku padanya. Hingga tanpa kusadari aku semakin sering bertemu dengan Desita, semakin erat pertemanan kita, dan semakin hari perasaanku menjadi tak menentu. Antara Desita dan Hany.

2 tahun setelah Hany tak ada kabar, aku dan Desita sudah resmi menjalin hubungan. Etahlah apa ini memang hubungan layaknya kekasih atau hanya pelarianku saja. Yang pasti kini aku punya tugas membahagiakan Desita. 2 tahun pertemanan sudah cukup bagi kita untuk memutuskan saling bertukar cincin. Sedang untuk melupakan Hany? 2 tahun saja belum cukup. Entah bagaimana aku bisa memutuskan untuk menikahi Desita. Itu spontan begitu saja. Desita sebenarnya tak tahu soal perasaanku yang masih ragu atas keputusan ini. Tapi aku sudah terlanjur melingkarkan cicin dijari manisnya.

Hany dimana kau? Sudah 7 tahun sejak perpisahan kita, kau tak kunjung datang, setiap pulang kerja aku selalu mampir di Alun-alun kota, berharap kau datang untuk mengunjungiku. Rasa sakit karena ingkarmu, tak cukup membuat rasa penyesalanku telah meninggalkanmu kala itu. Andai saja aku bisa sedikit bersabar, andai saja aku bisa berfikir dewasa, andai saja dulu aku tak egois hanya memikirkan perasaanku. Mungkin saat ini aku sudah melingkarkan cincin di jari manismu. Maafkan aku wanita lain yang mendapatkan cicin itu bukan dirimu. Aku tahu pertemuan ini tidak akan menuntaskan permasalahan hatiku dan hatimu. Hanya saja aku ingin memberitahumu bahwa dahulu aku sangat menyesal. Andai saja kau datang kesini. – Sandi Gumilang –

17 Februari pertunangan itu resmi digelar, menghasilkan tanggal 25 September 2016 sebagai hari pernikahanku dengan Desita. Senyum Desita begitu bahagia, aku tak tega mengungkapkan segala perasaan yang berkecamuk dihatiku. Cincin sudah sempurna terpasang di jari masing-masing. Air mataku menetes. Bukan karena bahagia, tapi karena aku telah mengambil keputusan yang teramat berat. Cincin ini tak mungkin terlepas lagi dari tanganku. Aku harus bertanggung jawab denganya. Tapi aku berharap masih bisa bertemu dengan Hany untuk terahir kalinya.

15 Maret 2016, aku menunggunya datang lagi. Ditemani harapan yang tergantung dilangit-langit kota. Apakah dia akan datang atau tidak? Aku juga tidak tahu. 6 bulan lagi aku akan menikah. Tak mungkin setelah pernikahan itu aku masih menunggu kedatangan gadis lain. Tapi untuk melupakannya sungguh tidak mungkin. Selama masih ada beban penyesalan dihatiku. Tak lama kemudian aku bertemu bi inem, pembantu yang dulu ada dirumah Hany. Aku sejenak berbincang denganya soal Hany.

“Bi inem?” teriakku

“ oh mas Sandi, lagi apa to mas disini?” kata bi inem

“ main bi, sebenarnya sih aku lagi nunggu Hany”

“ Astagfirullah mas, lha kok nunggu disini. Lha wong mbk Hany sudah pindah di Jakarta mas, sudah 3 tahun lalu”

“ bi inem masih kerja disana to?”

“ya masih mas, Cuma sekarang lagi libur”

“ Alhamdulillah”

“kenapa to mas?”

“gimana kabar Hany bi?”

“Baik mas, mbk Hany sekarang sibuk sama kerjanya. Sejak pulang dari istambul. Mbak Hany jarang keluar”

“Hany sudah punya suami bi”

“dulu mas, dia sempat dijodohkan sama teman abinya. Pas di istambul dulu dia dipaksa nikah mas, baru dapat 1 tahun. Mbak Hany ditinggal suaminya. Karena Mbak Hany ketahuan nyimpen surat-surat dari pacarnya pas SMA”

“loh Hany kan dulu ga punya pacar bi”

“Gak tahu ya mas, bukanya mas Sandi to pacarnya.”

“ah bi inem, dulu kita deket tapi Cuma temen bi”

“soalnya mbk Hany pas pulang sempet galau minta anterin bibi ke sini, tapi dia gak berani, dia malu mas”

“malu kenapa bi?, aku sudah lama nungguin dia disini udah 4 tahun bi”

“ya allah mas sandi setia banget sama mbak Hany, iya dia takut kalau mas Sandi sudah lupa, dan mbak Hany sebenarnya sudah punya anak mas”

“ ah Hany ada-ada aja bi, bilang aja sama dia aku tunggu disini ya bi”

Pertemuan singkat dengan bi inem luamayan bikin aku semangat, setidaknya aku sudah mengetahui kabar Hany. Hanya saja aku merasa terbebani lagi karena Hany bercerai dengan suaminya gara-gara aku. Aku tak tahu lagi bagaimana cara aku menjelaskan padanya kalau aku akan menikah bulan September mendatang.

15 Maret 2016, aku dan Hany bertemu, bukan di Alun-alun kota, tapi di Jakarta tempat tinggalnya. Aku nekat pergi kesana untuk bertemu denganya. Tentunya aku tidak berani berterus terang pada Desita. Aku bilang kalau aku ada urusan kerjaan disana. Desita sempat tak setuju aku pergi ke Jakarta. Tapi aku meyakinkan dia bahwa ini untuk kelancaran pernikahan kita. Desita akhirnya menurut.

Di Jakartka kita bertemu, Hany masih sama dengan dulu. Hanya saja kini kemana-mana dia membawa sikecil yang tampan. Putranya dari pernikahanya yang dulu. Aku sempat menelan ludah, membandingkan diriku yang seperti ini. Lumayan menyiksa kala aku dengan sabarnya menunggu dia datang. Dan saat kita bertemu dia sudah bersetatus janda. Ternyata tuhan memang adil. Aku sempat begitu bersalah karena merasa menghianatinya dengan keputusan menikahi Desita. Ternyata dia lebih dulu menikah dengan pria lainya. Walapun akhirnya mereka berpisah. Marah ? kali ini tidak. Aku tak bisa membayangkan betapa tersiksanya harus menikahi lelaki yang tidak ia cintai, jangankan cinta, bertemu saja tidak pernah. Dia wanita luar biasa mampu bertahan satu tahun dengan anak yang telah ia kandung.

“ Hai Hany, apa kabar?” sapaku duluan

“ iya san, baik. Alhamdulillah” jawabnya

“ bagaimana istambul? Keren kan?”

“ haha, ya begitulah. Agak sedikit sulit. Karena budayanya gak sama”

“namanya siapa han?”

“oh dia, jaroen”

“tampan, kayak ibunya. Gak tahu wajah ayahnya soalnya hehe”

“iya, um, san aku mau minta maaf karena ingkar janji. Bukan maksudku seperti itu”

“ ah, lupakan. Bi inem sudah menjelaskanya hehe. Aku yang minta maaf dulu udah pergi begitu saja”

“taka pa, aku memahaminya san”

“kalau boleh tahu. Kenapa tidak kau teruskan rumah tanggamu, kasian jaroen”

“aku ingin menjalaninya seperti biasanya san, seperti rumah tangga orang-orang lain yang bahagia. Tapi tidak bisa. Aku menyesal dulu tidak bilang yang sebenarnya padamu. Aku hanya takut kalau perasaan ini akan membuatku menentang keputusan ayah untuk pergi ke istambul. Andaikan aku tahu aku akan dinikahkan disana. Mungkin aku lebih memilih untuk tinggal. Aku terlalu malu untuk bertemu denganmu san. Aku sudah menikah dan memiliki satu anak. Sedangkan kau disini tersiksa menunggu”

“hany, sudahlah. Awalnya ini memang menyakitkan. Tapi aku menikmati waktu saat menunggumu. Lihatlah sekarang aku sudah sukses. Semua karenamu han. Aku tak masalah kau sudah janda atau tidak. Memiliki 10 anakpun tak masalah bagiku”

Kala itu aku kalap, mungkin karena perasaanku yang mengebu-gebu, aku jadi tersihir oleh perasaanku sendiri. Aku memeluk Hany, menjadikanya jatuh cinta padaku. 3 bulan aku masih bertahan disana menemani Hany, anaknya sudah sangat akrab denganku. Hingga aku luap 3 bulan lagi aku akan menikah. Desita sudah marah-marah menyuruhku kembali. Menanyakan persiapan pernikahan kita. Saat itu pula aku ragu. Aku harus memilih Hany atau Desita.

Dering telfonku terus berbunyi, Hany dari tadi mengingatkan aku untuk mengangkatnya, tapi aku terlalu takut. Antara takut Hany mengetahui kebenaranya, atau Desita yang akan tahu kebenaranya. Semua menjadi semu. Malam itu aku memutuskan untuk pulang lebih cepat dari biasanya. Mencoba untuk menelfon Desita kembali. Pertengkaran hebatpun tak ter elakkan. Hingga terpaksa aku harus kembali ke Sidoarjo. Hany dengan senang hati mengizinkanku. Dari dulu dia selalu tampak kharismatik dan dewasa. Aku selalu tenang ketika bersamanya, bahkan hanya melihat wajahnya saja aku sudah tenang.

Desita adalah gadis yang bersemangat, tidak mudah putus asa, dan terkesan manja. Aku sedikit tidak menyukai sifatnya yang selalu bawel seperti anak kecil. Mungkin karena ada Hany sebagai pembanding.

“ San, pernikahanmu tinggal 2 bulan lagi. Undangan ini jadi disebar apa enggak?” Tanya ibu aneh

“terus pesen gak di sebar buat apa buk?” jawabku

“ hatimu sudah yakin to san? Ibu kok merasa ada yang aneh”

“sejujurnya, sandi bingung buk. Pamali mau membatalkan pernikahan hanya karena hatiku buk. Lebih baik aku begini daripada harus membuat bapak dan ibuk malu”

“ yaudah nek gitu. Ibu minta jangan balik ke Jakarta lagi”

Malam itu aku persis seperti pujangga, galau tidak karuan. Menangis sejadi-jadinya seperti wanita. Aku takut menghubungi Hany, tapi aku juga takut membuatnya khawatir. Hany, wanita yang kucintai dan Desita, wanita yang akan kunikahi. Aku yakin jika kalian dihadapkan pada kenyataan ini mungkin sudah beli racun tikus karena frustasi. Ah aku tidak mungkin melakukan itu. Malam itu juga aku buang sim card yang berisikan nomor telpon lamaku, kubuang jauh-jauh dan entah mungkin aku akan menyesali ini nantinya.

Jarum waktu semakin cepat berputar, semakin dekat dengan hari pernikahan. Aku sungguh khawatir, bukan masalah waktu ijab qobul. Aku khawatir jika Hany tiba-tiba datang. Membuat pendirianku goyah. Bukankah cinta seperti itu? Menjadikan otak tidak bisa berfungsi sepenuhnya.

Dan kini aku sudah persis seperti orang kesetanan, keliling mencari sim card yang aku buang dulu, aku rasa ini belum terlambat untuk mengatakan selamat tinggal atau mengucap maaf padanya. Aku tidak tahu lagi jadinya kalau sim cardku tidak ketemu, dan rasanya tidak mungkin untuk datang ke Jakarta menemui Hany. Seminggu lagi pernikahan ini akan berlangsung.

“ Hany, maafkan aku, selama kamu pergi aku juga telah memiliki kekasih lain. Sebenarnya aku tidak begitu yakin mencintainya. Tapi keadaan memaksaku untuk segera menikah. Hany aku sungguh minta maaf” kataku

“Sandi, semua telah terjadi. Menikahlah ! aku akan tetap menunggumu. Hingga kamu kembali. Seperti kamu yang selalu menungguku hingga aku kembali lagi” katanya

Sungguh lega aku mendengarnya, tapi ini hanya obrolan anggan-anggan, sama sekali tidak pernah terjadi. Membayangkan saja tidak mungkin. Hany pasti tidak mau lagi menungguku. Bukankah menunggu itu melelahkan. Sepeti saat aku menunggunya datang.

Seminggu berlalu, 5 jam lagi pernikahaanku. Dan ini sudah pukul 5 pagi, mataku masih belum terpejam sama sekali. Tidak tahu apa yang terjadi nanti, aku tetap seperti ini. Berada dalam situasi yang sulit. Dan Hany ? aku tetap tidak tahu kabarnya, tidak tahu beritanya, tidak tahu informasi apa-apa tentangnya. Pernikahan? Ya, pernikahan ini tetap terjadi. Aku tetap menikah dengan Desita, menjalani kehidupan selayaknya pasangan suami istri seperti lainya. Tapi tetap, dalam hati yang terdalam, aku mencari-cari sosok Hany yang terlanjur menghilang karena ulahku sendiri.

Ceritaku cukup ku akhiri disini, hari-hari selanjutnya terasa hambar untuk diceritakan. Sandi Gumilang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s