Baiklah aku menyerah

sunset-girl-photography-pictures

Ruang kosong itu tampak sunyi ditinggalkan oleh penghuninya, aku dan Johan sudah berusaha sekeras mungkin menghidupkan lagi ruang yang dulunya adalah tempat terhangat bagi kita. tapi apalah daya, kenyataan tak seperti yang kubayangkan. Satu persatu teman-teman pergi meninggalkan ruang itu. Berganti menuju tanah kosong diseberang jalan. Yang katanya disana dia dapat mendapatkan seluruh hidupnya.

Baiklah, aku menyetujui pendapat mereka soal itu, akupun mendukungnya. Anak-anak yang tampak masih lugu itu memang dituntut untuk melakukan kegiatan tersebut demi mendapatkan sesuap nasi. Awalnya aku sempat marah dan kasihan pada mereka. Bersikukuh bahwa hidupnya bukan untuk dijalanan melainkan dibangku sekolah. Yah itu pendapatku, tapi tahukah kamu kenyataan yang sebenarnya, tidak semudah yang kalian bayangkan. Kedua orangtuanya tidak mampu dan sakit-sakitan karena berada dilingkungan yang tidak layak huni. Air yang bercampur dengan limbah, tempat sampah yang jaraknya hanya 100 meter dari pemukiman, belum lagi hewan ternak yang berak dimana saja. Ah aku tidak sanggup membayangkan lagi.

Setiap hari hanya jalanan yang bisa menghidupi mereka, uang yang diperoleh dari kedua orangtuanya sudah habis untuk menebus obat, menyisakan uang yang diperoleh dari kenaan. Seorang anak berumur 10 tahun yang selama hidupnya berada dijalanan.  Uang itu untuk kebutuhan makan sehari-hari, tepatnya hanya untuk 2 kali makan sehari dan 2 bungkus untuk 4 orang. Sekolah ? gratis? Mana mungkin ! pernah ada sekolah seperti itu dikampung-nya dulu, tapi sekolah itu tidak mampu bertahan lama, tetap saja semua itu harus ada uang. Belum lagi kalau sekolahnya digusur karena tidak memiliki izin, atau ketika hujan becek dan tidak ada yang datang, atau ketika buku-buku rusak terkena bocoran air hujan. Ah banyak sekali biayanya. Dan setengah waktunya harus ditebus dengan kerja lembur hingga malam hari. Kalau itu perkara mudah untuk kita memanajemen waktu, untuk mereka itu hal yang sangat rumit, rumit sekali. Beda dengan kita yang berpendidikan dan terbiasa berfikir secara sistematis. Mereka tidak kenal itu sama sekali.

Akan tetapi, cerita ini bukan tentang ruang kosong itu, atau tentang kenaan dengan segala kerumitanya. Atau kampung Bluru yang terkenal dengan kumuhnya. Tepatnya tentang aku dan ruang kosong hatiku yang dulunya hangat.

Luca, begitu panggilan akrabku. Gadis berambut pirang dan memiliki mata coklat, serta alis tebal ini sedang berusaha berdikusi dengan hatinya. Hatinya yang kacau balau karena imajinasi – imajinasi bodoh tentang dia.

Johan, begitu aku memanggilnya. Lelaki yang sering menghabiskan waktu bersamaku untuk mengisi kelas social di kampung Kenaan ini adalah kekasihku. Seharusnya sampai saat ini dia masih kekasihku. Seharusnya ….

Pertemuan tak terduga denganya dikampung itu membuatku tertarik dengan kehangatan kasih sayangnya. Yang dengan sabar mengajari anak-anak buta huruf tersebut. yang dengan ikhlas mengorbankan waktu dan uang berharganya untuk anak-anak tersebut, yang dengan telaten mencari murid dari rumah kerumah kumuh itu tanpa rasa jijik.

Aku salut dengan keteguhan hatinya merubah pola fikir anak-anak jalanan itu. Apalagi saat meyakinkan keenan untuk membuat komik. Kenaan sendiri sangat pandai menggambar. Waktu kita masih belajar di kelas kreatif itu, dia sempat membuat komik tentang keseharian kita. Katanya, karena dia tidak bisa merangkai huruf-huruf maka dia merangkai gambar-gambar.

Kelas social yang berlangsung selama 6 bulan itu kita namakan, kelas kreatif. Jadi kegiatan disana tidak menuntut anak-anak untuk berhitung matematika, atau mendapatkan Pendidikan formal, tapi lebih focus pada peningkatkan potensi yang ada dirinya sendiri. Seperti kenaan.

“ Kenaan, kamu mau bikinin kakak komik gak?” tanyaku

“boleh, dibayar kan?” jawabnya

“haha, jelas dong. Nanti kakak kasih bonus uang jajan deh”

“asyik hehe, gak usah ngasih banyak-banyak kak, gambar kenaan jelek”

“hehe”

Aku hanya tersenyum ringan menanggapi omongan Kenaan, walaupun dia tidak mampu, dia tetap mempunyai harga diri. Dia tidak mau dianggap seperti pengemis. Sehari-hari dia bekerja dijalanan tapi tidak mengamen, dia menjual air mineral, kacang, ataupun permen.

Saat itu aku menyuruh Kenaan untuk membuat komik tentang Johan. Aku ingin memberinya sebagai kado sebelum kelas ini berakhir. Agar dia selalu ingat kengangan manis saat denganku. Minum coffe di café sebelah, jalan-jalan santai di alun-alun, mengusir bebek saat ingin mengerjarku atau saat pergi kerumah-rumah mencari murid-murid. Aku ingin dia mengenang hari-hari itu. Walaupun aku percaya, bahwa dia akan tetap mengenangnya walaupun tidak ada komik tersebut.

“ Luce..” Panggilnya padaku

“ hai, barusan sampai ya” tanyaku

“ iya, tadi macet jadi lama, yuk berangkat nanti kesiangan. Kasihan anak-anak”

Setiap pagi, walaupun jarak rumahnya lebih dekat dengan kampung Bluru, dia selalu datang pagi-pagi demi aku. Katanya dia gak ingin aku kerepotan karena harus bawa motor sendiri. katanya lagi dia gak mau aku kenapa-kenapa dijalan. Dan katanya lagi dia gak mau aku diculik karena cantik. Haha

“ kamu sudah makan? Mampir dulu beli makan yuk, nanti kalau disana kamu gak doyan makan lagi” katanya padaku dengan laju motor pelan.

“emm belum sih, yuk” kataku. sebenarnya aku sudah makan tadi, tapi Cuma dikit. Sengaja biar kalau dia ngajakin makan aku tetep bisa makan. Mungkin lebih tepatnya sih biar bisa lama ngobrol sama dia hehe.

“kamu gak ilfil gitu punya cewek kayak aku, yang bawel, nyebelin, dan yah sok bersih gitu” kataku.

Maksudku kenapa dia mau denganku yang kadang suka muntah kalau makan di kampung Bluru, atau kadang ngajakin makan ke tempat yang bersih seperti dicafe, atau tempat makan yang higenis, dan kenapa dia mau denganku yang kadang bawel, manja, kemana-mana minta dianterin. Dan biasanya cowok menamai cewek jenis ini cewek matre, hanya karena suka makan di café.

“wajar dong, siapa juga yang nyaman kalau makan ditempat seperti itu. Gak lah, ngapain aku ilfil. Emm lagian aku juga gak suka makan dipinggir jalan, masa iya aku bawa orang yang kusayangi makan dipinggir jalan. Nanti kalau ada apa-apa missal kena virus kan aku yang gak enak” jawabnya.

Seketika aku memeluk erat pinggangnya. Menyandarkan pipiku dipunggung Johan menikmati udara pagi dengan naik motor bebek kesayanganya. Sebelum kita sampai di kampung Bluru, kita mampir makan di gun’s cafe. yang terletak 500 km dari kampung Bluru. Biasanya kalau makan cewek yang pesan makananya. Tapi kalau aku jalan sama dia, semuanya dia yang ngelakuin. Aku tinggal duduk dan menunggu pesanan. Katanya dia ingin selalu membuatku nyaman jika bersamanya.

“ Loh uda pesen?” tanyaku

“udah” jawab dia

“ kan aku belom pesen?”

“ Nasi campur sambelnya yang banyak kan?”

“hehe iya. Kok tau sih”

“aku kan peramal”

Setiap hari, dia selalu menunjukan keperdulianya seperti ini. Dia selalu tahu apa yang kumau tanpa aku menunjukanya. Dia selalu tahu kebutuhanku tanpa aku harus mengatakan kepadanya. Dia tahu apapun yang sedang ingin kulakukan. Seperti ketika aku ingin protes karena minumanku salah, dan aku tidak berani mengatakanya. Dia langsung mengambil gelasku kemudian dia bawa kekasir untuk minta diganti dengan pesanan aslinya.

Oh tuhan, aku beruntung sekali bertemu dengan lelaki itu, lelaki yang penuh kehangatan. Lelaki yang selalu membuatku nyaman saat bersamanya. Ada lagi, ketika aku marah dan jengkel denganya, dia selalu berhasil membuat hatiku tersihir dan kembali jatuh cinta padanya lagi dan lagi.

Dan aku masih berharap semua itu masih tejadi saat ini, 6 bulan berlalu komik itu masih belum sempat aku serahkan. Karena aku terlalu sibuk dengan dunia baruku. Terlalu sibuk dengan kegiatan dikampus. Kendati begitu aku tidak melupakanya, dan hubungan kita masih tetap seperti biasanya, hanya saja kita sudah jarang bertemu. Sempat aku ingin dekat dengan lelaki lain, lelaki yang  juga menaruh banyak perhatian denganku. Maklum 6 bulan perjalanan hubungan kita, masih dibumbui rasa ragu. Mungkin tepatnya aku yang masih ragu, dia selalu yakin bahwa aku yang terakhir.

Ini adalah keasalah terbesarku, saat itu aku memberi banyak ruang untuknya singgah. Rafka, ya lelaki yang hampir saja merebut diriku dari Johan. Sayangnya itu tidak berhasil. Rasa cinta, dan ketulusan Johan tidak mampu mengalahkan siapapun. Tapi, hampir saja Rafka menggoyahkan perasaanku. Bukan berarti ini terjadi, hanya saja hampir.

Saat itu aku sedang sibuk-sibuknya dikampus, 2 minggu kita tak bisa bertemu, aku mulai  lupa dengan Johan, jarang sekali menghubungi Johan, bahkan karena aku terlalu sibuk aku lupa kalau Johan sedang menantikan kabarku. Aku malah sibuk dengan teman-teman kampusku. Tapi dengan sabar Johan memperhatikanku, dengan Sabar dia menungguku. Bahkan sepertinya dia tidak keberatan sama sekali aku tidak menghubunginya. Dia pun tidak memperlihatkan  tanda-tanda kemarahan sedikitpun.

Aku mulai bertanya-tanya, apakah Johan memang benar mencintaiku? Mengapa dia tidak marah? Mengapa dia membiarkanku begitu saja? Haruskah aku bertemu dengan lelaki lain? Agar dia tahu kalau aku juga bisa pergi jika tidak dipertahankan.

Fikiran seperti itu sempat melintas difikiranku, oleh karena itu aku sering bercakap dengan Rafka, makan Bersama Rafka dan kadang curhat-curhat dengan Rafka. Dan hasilnya ? aku malah membenci rafka. Jika dibandingkan dengan Johan, Rafka tidak masuk kategori sedikitpun. Caranya berbicara, caranya memperhatikanku, caranya memesan tempat makan, oh sungguh berbeda sekali. Sangat berbeda.

Bayangkan, dia selalu ingin menyamaiku, hobynya, kesukaanya, jenis makanan, ah banyak deh. Tidak kereatif sama sekali, beda dengan Johan yang selalu membuatku nyaman yang selalu punya ide-ide kreatif untuk membuatku terkejut. Johan tidak terlalu banyak bertanya tapi dia selalu tahu yang ku mau. Dia memang pendiam, tapi dia pendengar yang baik. Dia memang tidak bisa berkata bijak, tapi dia mampu memahamiku dengan baik. Beda dengan Rafka.

“Luce makan yuk” tanya Rafka

“Kemana?” jawabku

“ya kemana, biasanya makan dimana?”

“kalau nasi suka nasi campur, kalau di café suka makan chiken wings, emm serah deh”

“kamu aja yang nentuin tempat”

Jujur, aku paling gak bisa kalau disuruh milih tempat makan. Ya karena aku memang gak begitu sering ketempat makan. Paling  juga Johan yang punya banyak reverensi tempat makan. Dia selalu menemukan tempat makan yang pas dengan seleraku.

“kemana luce? Apa ke Mcd aja ya” tanya dia

“serah deh” jawabku sebal.

Awalnya dia emang terlihat menarik, terkesan dewasa dan bijak. Selalu banyak mengeluarkan nasehat-nasehat baik, beda dengan Johan yang lebih suka bertindak daripada berbicara. tapi 2 hari aku mengenalnya, aku dibuatnya semakin ilfil. Lebay lah Bahasa kasaranya. Dia itu sok bijak tapi gak sesuai dengan image yang dia ciptakan. Dan paling nyebelinya lagi, dia Kegeeran banget jalan sama aku. Dia fikir aku bakalan tertarik dengan dia hanya karena dia banyak uang. Atau karena dia menciptakan image agamis yang menurutku seperti dipaksakan.

“ Luce, uda sampek. Kamu yang pesen gih” katanya

“loh kok aku, kamu aja lah ! aku makan cheese burger sama mocca float” jawabku sembari mengerutkan alis

“yaudah berdua aja”

“kayak anak TK aja sih”

Aku semakin ilfil dengan sifatnya yang ah terkesan dipaksakan banget yang terkesan ingin disesuaikan dengan sifatku. Dan aku gak suka orang yang gak jadi diri sendiri. kalau memang gak pernah makan di Mcd aku gak masalah diajak ke kantin kampus. Aku juga gak bakal keberatan kalau kamu memang cowok polos yang belum tahu dunia luar. Sikapnya yang seperti ini malah membuatku tidak nyaman.

“yaudah makan dulu sana” kataku sambil maksa senyum

“ya kamu duluan yang makan” jawabnya.

Aku tahu banget, dia nungguin aku makan burger karena dia gak tahu caranya makan, bukan aku sok tahu, dia bilang sendiri nanya ke aku caranya makan burger. Oh tuhan mungkin ini hukumanku karena pernah berfikiran buruk pada Johan.

“ kamu gak punya kemeja gitu Raf” kataku

“ hehe, ada cuma tak pakai pas kondangan” jawabnya

Aku langsung memalingkan wajah, berdoa pada tuhan agar waktu cepat berlalu. Kalau aku jalan sama Johan dia selalu tampil rapi, pakai sepatu dan yah minimal dia pakek kaos yang sesuai dengan celananya lah. Dan juga pakai tas yang pas gitu sama dia. Nah ini si Rafka ngelucu, ke Mcd pakai kaos oblong warna kuning, celana jins biru dan kegedean, terus pakai tas warna merah yang udah mulai luntur, sama pakai sandal yang udah 7 turunan dipakai. Bukan berarti Rafka orang gak mampu, dia punya Moge 2, punya mobil 1 dan dia udah kerja lagi. Cuma dia bukan anak kantoran.

Yang bikin parahnya lagi, dia selalu ingin seperti aku. Ketika aku bilang aku suka puisi, eh dia bikin puisi gak nyambung banget lagi, terus aku bilang kalau aku suka baca, tiba-tiba dia ngasih aku novel, katanya dia juga suka baca dan kebetulan dia lagi panen novel, dikasih ke aku satu deh. bete banget kan, kalau dijiplak gitu. Emang dia gak punya ciri khas sendiri gitu. Akhirnya aku bilang kalau aku suka sama Joahan. Eh gataunya dia malah mau ketemu Johan. Haha aneh-aneh aja tu anak.

Kita tinggalkan cerita tentang Rafka, semenjak aku bilang suka sama Johan dia sudah tidak mau menghubungiku lagi. Kadang dia nyindir-nyidir aku masalah agama dan lain-lain. Aku tetap diam. Bukanya kalau kita tidak tahu makna dari suatu tafsir al Qur’an maka sebaiknya kita diam. Nanti kalau salah malah kita yang berdosa. Kalau memang pengetahuan kita masih belum banyak, boleh lah pakai cara yang ringan-ringan dulu. Masa iya mau sholat duha aja posting di Instagram dulu, kan aneh.

Hari itu aku kembali, tugas kampus masih setengah perjalanan. Johan tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantar jemput ku dikampus. Bahagia banget rasanya, saat itu aku berfikir bahwa ternyata dia masih takut kehilangan aku, buktinya dia marah kalau aku jatuh sakit dan bersedia mengantar jemputku kapanpun.

“ kamu jangan terlalu sibuk, jangan lupain tu makan. Kalau sakit gini kan susah. Besok aku antar jemput ya kekampusnya” kata johan dalam percakapa telfon

“hehe iya maaf. Oke, besok jam 8 berangkatnya” jawabku

“ aku diam bukan berarti gak perhatian ya, aku Cuma mau ngertiin kamu dengan kesibukan kamu yang banyak itu. Jadi jangan pernah berfikiran aneh-aneh. Atau jangan sempet punya fikiran deket sama cowok lain” katanya dengan nada yang serius.

Anehnya percakapan singkat itu membuatku nyaman, membuatku merasa dibutuhkan dan membuatku merasa penting baginya. Mungkin kemarin dia diam karena tidak ingin menganggu aktifitasku dan berharap aku konsen dengan studyku. Aku mulai memahami perasaan Johan. Tapi setelah hari itu dia menjadi sedikit posesif, sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit cemburu, sedikit-sedikit bilang takut kehilangan aku. Ah betapa aku menikmati hari-hari dia cemburu padaku. Itu menyenangkan. Saat itu juga aku mulai membatasi diri dengan lelaki lain. Hubungan kita mulai serius dan kita berkomitmen untuk menikah.

Hari berlalu, kesibukanku mulai pergi, dan kesibukanya mulai datang. kini dia berubah? Tidak hangat seperti dulu lagi. Dia lebih sering mengatakan maaf, lebih sering membuatku menunggu, lebih sering membatalkan janji. Aku tahu dia sibuk mengurusi bisnis ayahnya. Tapi bisakah dia menceritakan sedikit tentang kesibukanya. Bisakah dia memberi pengertian yang masuk akal padaku? Bukankah katanya dulu dia tidak ingin ikut campur dengan bisnis ayahnya? Dan membuka usaha sendiri.

Hari-hari selanjutnya aku habiskan untuk menunggu dan menerima maaf. Hanya itu. Kadang aku merindukan hari-hari saat kita makan di gun’s café. Pesan nasi campur dan marah saat salah ngasih minum haha. Aku rindu hari-hari itu Johan.

“ Johan, kamu masih sibukkah? Bales dong” kataku melalu pesan singkat

“johan” kirimku lagi

“sudahlah aku tidur saja” kirimu lagi, berharap aku bisa tertidur dan dia cemas karena membuatku menunggu.

Tapi sampai keesokan harinya, dia tidak membalas pesanku. Aku kesal sekali, aku marah padanya dan menjelaskan maksud hatiku. Aku bilang  padanya untuk mengabariku kalau dia sedang sibuk, karena aku cemas. Diapun mengerti dan meminta maaf. Kemudian dia melakukanya lagi. Akupun mengatakan bahwa aku benci dengan kegiatanmu saat ini, kalau kamu tidak suka kenapa terus kamu lanjutkan. Dia meminta maaf padaku dan memintaku untuk mengerti keadaanya. Akupun mencoba mengerti. Tapi dia tetap tidak berubah. Aku marah dengan alasan lain lagi, lagi, dan lagi. Tapi dia juga tidak merubah aktifitasnya.

Dulu, Johan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukku, mengerti perasaanku dan mencoba menghindari perbuatan yang membuatku marah. Mengapa aku sangat marah dan terkesan egois dalam hal ini. Semua karena aku tahu kemampuan Johan yang luar biasa itu. Dia bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Dia mampu untuk menjadi apapun yang dia inginkan.dan aku merasa kali ini Johan bukanlah Johan yang kukenal dulu. Dia menjadi aneh dan seolah-olah tidak perduli dengan pendapatku. Dia percaya bahwa ini adalah langkah terbaik, dia percaya bahwa saran-saran itu hanya untuk keuntungan diriku sendiri. padahal nyatanya, ini semua untuk dia. Untuk cita-citanya yang ingin memiliki usaha sendiri, tentang impianya yang ingin mendirikan studio foto sendiri.

Dulu sekali, aku pernah menyuruh dia meminta bantuan pada ayahnya. Tapi dia tak mendengarkanku, katanya dia bisa melakukanya sendiri. Katanya dia mampu melakukannya dengan percaya diri. Lalu saat aku mulai bersemangat dengan kepercayaan dirinya. Dia malah berhenti untuk percaya diri. Dan memilih mengurus usaha ayahnya.

Dulu sekali, aku pernah marah ketika dia sibuk dengan dunianya. Dan ketika aku marah dia selalu melihat sisi positifku. Menjadikanku sosok wanita yang manja.

Dulu sekali saat aku bilang tidak suka dengan gaya fashionya yang kayak pencopet dipasar minggu, dia langsung merubahnya.

Apapun yang kukatakan, walaupun itu hanya gurauan. Tapi dia melakukanya. Katanya demi menjaga kenyamananku. Dan katanya itu bukan masalah besar yang harus diperdebatkan. Katanya itu adalah sebuah usaha untuk mendapatkan hati wanitanya. Katanya itu adalah hal yang sangat wajar untuk lelaki yang  benar-benar mencintai wanitanya.  Tapi sekarang  hal-hal itu tidak terjadi lagi.

“johan aku rindu” tulisku dalam pesan singkat

“ maaf luce, aku tadi sedang ada janji dengan klien. Aku juga rindu kamu. Nanti ya” jawabnya

Entahlah, kata maaf dan alasan-alasan yang dia kirimkan tidak mampu menyihir hatiku lagi. Meskipun dia menjelaskan, meskipun dia meminta maaf. Hatiku tetap saja risau.

“ dulu saat senja, kita disini menikmati ice cream coklat kesukaan kita. Dan sekarang aku sendirian” tulisku lagi dalam pesan singkat

“maaf ya, belum bisa nemenin kamu. Masih banyak yang belum kuselesaikan” jawabnya setelah 1 jam pesanku tersampaikan.

Kemudian saat aku sedang mengunjungi desa Bluru dengan teman-temanku yang lain, aku mencoba mengirim gambar komik yang Kenaan buat.

“ Johan, lucu ya. Kita dulu disini. Kamu selalu ngajarin Keenan gambar. Kamu gak kangen kesini?” kataku dalam pesan singkat.

“wah iya, itu kita ya?” jawabnya 30 menit kemudian

“iya dong, masa orang lain. Kamu kapan mau kesini? Keenan tanya?” balasku lagi, dengan maksud agar kita bisa betemu dan menyempatkan sedikit waktunya untuk melepas segala kesalahfahaman ini.

“ maaf, aku masih belum bisa kesana. Bulan depan ya Luce. Sekalian ke gun’s café” jawabnya. Aku tahu itu hanya sebuah alasan untuk membuatku lega, sebagai symbol bahwa dia ingat sesuatu yang mengesankan di gun’s café. Dan secara tidak sengaja dia kembali membuatku berharap, harapan yang selalu ia gantungan disudut kota. Entah esok akan terjadi atau tidak. Aku berharap dia mengingat janjinya itu.

Satu bulan berlalu, aku sengaja tidak mengingatkan dia. Diapun sepertinya tidak ingat. Aku tahu sekali kesibukan dia yang penuh dengan jadwal. Tapi setidaknya, beri ruang untuk kita mengenang masa-masa kita dulu. Tolong Johan.. sebentar saja.

“ kamu sibuk?” tanyaku dalam pesan teks

“luamayan sih, ada apa? Tanya dia kembali

“pulang jam berapa nanti?”

“mungkin jam 7 malam, papa ngajak  makan sama klient bentar”

akupun tak berani mengingatkan, karena aku tahu dia sedang capek. Aku memilih diam dan membalas pesanya singkat-singkat. Dia sempat marah dan bertanya padaku, tapi aku terlalu Lelah untuk menjelaskan. Aku terlalu Lelah menunjukan isi hatiku yang kacau karena perubahanya. Aku terlalu Lelah.

“ jadi, ini sudah tanggal 15. Masih ingat kalau kamu janji sama aku” kataku sedikit marah dalam pesan teks

“janji makan malam kah? Maaf aku sibuk kemarin jadi lupa” jawabnya

“ ke Bluru ? aku sudah mengingatkanmu tiap hari, katanya besok, katanya 3 hari lagi, katanya minggu depan, katanya bulan depan. Terus kapan?” dan aku benar-benar marah.

“maaf ya luce, maafkan aku aku benar-benar lupa. Nanti aku pulang jam 3 ya. Aku jemput dirumah kamu”

Maaf … maaf … dan maaf, lagi lagi kata itu yang kudengar, lagi-lagi kata itu yang kubaca. Sebernarnya aku tidak ingin membuatnya sering mengatakan maaf. Aku ingin sekali bercanda hangat seperti dulu. Tapi setiap percakapan kita, selalu saja diiringi oleh perasaan bersalah. Entah aku ataupun Johan.

Aku merasa bahwa sifatku ini lambat laun akan membuat Johan marah. Atau perubahan Johan membuatku menjauh darinya. Seperti Bom Watu. Entahlah..

Aku tidak tahu, apakah ini termasuk jenis kesalahan yang patut diperdebatkan. Ataupun ini termasuk jenis perubahan yang patut untuk di pertanyakan. Ataupun ini jenis kesibukan yang harusnya tidak terjadi.

Aku terus berusaha mengerti dia, diapun terus berusaha mengerti aku. Lalu jenis kesimpulan apa yang kita dapatkan? Tentu harus ada titik temu dari semua masalah ini.

Mungkin perpisahan? Oh tidak, aku terlalu menyayangi dia itu tidak bisa menjadi titik akhir. Pernikahan? Seharusnya begitu. Tapi ini tidak begitu mudah untuk dirumuskan.

Baiklah.. aku menyerah. Aku akan membiarkan takdir membawa hubungan kita pada titik akhir. Sebagai mana tuhan memberikan hadiah yang tepat untuk usaha-usaha kita. Dan aku berharap suatu saat aku menemukan Johanku yang dulu lagi. Yang tampak hangat dan selalu percaya diri. Yang tidak tergoyahkan oleh apapun. Yang mampu menikmati hidupnya dengan sederhana. Dan terakhir aku berharap ayah Johan mau merestui Johan untuk membuka usaha sendiri.

By. Emildaf

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s