Bahasa Rindu

BAHASA RINDU

Hai sayang, Entah mengapa aku suka sekali menulis surat walaupun aku bisa mengatakanya langsung lewat pesan chat, tapi ini adalah satu-satunya hal yang dapat mengusir rasa lelah, rasa cemas, rasa takut, rasa sedih. Aku ingin menulis dan aku ingin kamu menjadi pembacanya. Walaupun jarak kita dekat, hanya 1 jam dari rumahmu, dan 5 menit dari tempat kerjamu. Tetap saja terasa jauh.

3-4 jam pada akhir pekan rasanya kurang cukup untuk menuntaskan rasa rindu yang menggebu setiap harinya. Aku tidak ingin membahas soal kerjaanmu, atau kesibukanmu yang pada merayap bagai jalanan Jakarta, atau bahkan pada merayap seperti rinduku. Aku tahu kamu bukan cowok romantis yang tiba-tiba membalas surat email yang kukirim saat aku sedang iseng. Tapi aku suka setiap kali harus memberimu ribuan surat cinta.

Aku juga tidak ingin membahas sifatmu yang mulai berubah tanpa kamu sadari, aku hanya ingin mengucap rindu saja…

Setiap hari, walaupun ketidak sengajaanmu membuatku marah, tetap saja aku tak tahan jika harus membuang-buang waktu untuk mendiamkanmu. Membiarkan pesanmu tersangkut dalam awan biru. Dibaca oleh mesin yang harusnya aku duluan yang menerima.

Walaupun kita bertengkar, walaupun kita saling berprasangka buruk, aku selalu menyelipkan rindu yang selalu menggebu. Aku lebih memilih bertengkar denganmu asal kita masih saling berbalas sapa. Daripada harus menunggumu dengan diam, menunggumu mengerti bahasa isyaratku.

Jika boleh dijabarkan, ribuan prasangka buruk tentu akan melesat dalam fikiranku. Tapi aku tidak mau menerima kehadiranya. Karena aku yakin bahwa itu bukan kamu.

Lalu kenapa aku sering marah? Itu adalah bahasa rindu. karena aku rindu aku harus mengobatinya, entah itu dengan mendengar suaramu atau melihat wajahmu. Tapi ketika rinduku tak memiliki ruang waktu? Apa yang bisa kuperbuat selain mengomel memaksamu mencari alasan untuk bertemu.

Rindu ini mengerikan yah? Bagiku inilah rindu. Sedikit memaksa dan agak egois. Ini adalah Bahasa rinduku, dan tanpa sengaja. Aku ingin sekali kamu memaksa untuk bertemu karena merindukanku. Aku ingin sekali kamu menangis karena merindukanku. Sayangnya aku tak mengizinkan itu terjadi, bagiku ruang waktu bertemu terlalu sempit, jika ditambahkan jarak. Aku takut malah aku yang terluka sendiri. Terluka karena terlalu merindukanmu …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.